Optimisme dalam Kehidupan Sehari-Hari Manusia

Hello loyal readers, seberapa optimis kah kalian?

Di zaman serba moderen ini, tantangan begitu banyak bisa membuat kita lelah dan capek menghadapi kehidupan. Hal-hal buruk yang terjadi di seluruh dunia, seperti penyebaran virus, terorisme, pergeseran politik, dan bencana alam juga tidak membantu kita lebih semangat. Belum lagi ditambah masalah pekerjaan, pribadi, keluarga, dan hubungan romantis. Nggak sedikit orang yang bisa kewalahan.

Terkadang saya berpikir, kenapa ya kita tetap bisa bertahan hidup di tengah-tengah kehidupan yang menjatuhkan semangat ini? Kemudian terpikirkan oleh saya: harapan.

Harapan dan optimisme merupakan alat yang penting dalam menentukan keberlangsungan hidup manusia. Harapan bisa menentukan langkah hidup kita selanjutnya. Rasa optimis bisa membimbing kita untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik. Hilangnya harapan atau merasa pesimis terbukti bisa mengenaskan bagi seseorang.

Bagaimana bisa?

Bagaimana optimisme bekerja


Saya percaya tidak ada sebutan orang yang optimis atau pesimis. Setiap orang memiliki tingkat optimisme yang berbeda-beda, tergantung dengan situasi, konsep diri, dan sumber daya yang ia miliki untuk menghadapi situasi-situasi dalam hidup.

Optimisme bukan sebuah harapan atau kepercayaan buta, melainkan takaran dalam diri terhadap hasil atau outcome dari sebuah situasi.

Komposisinya terdiri dari seberapa tinggi penilaian kita terhadap nilai dan kemampuan diri sendiri: seberapa mampu kita menguasai dan mengatasi masalah tersebut.

Tentu, ini berkaitan dengan sumberdaya yang kita miliki. Apakah secara finansial kita mampu, apakah lingkungan kita mendukung? Apakah kita memiliki dukungan sosial yang tepat?

Terakhir, tergantung bagaimana situasi terjadi. Apa masalah yang kamu hadapi, cenderung akan mempengaruhi persepsimu terhadap masalah tersebut. Terkadang, sebuah masalah bisa terjadi dengan begitu cepat dan membuat kita merasa kewalahan atau pesimis

Pro dan kontra optimisme

Memiliki optimisme secara umum pada kebanyakan tentu saja merupakan hal yang cukup baik. Penelitian oleh Rozanski, Bavishi, dan Kubzansky, tahun 2019 menemukan orang dengan tingkat optimisme tinggi cenderung memiliki resiko serangan jantung lebih rendah, atau sakit secara umum. Saya pribadi merasakannya. Ada sakit yang membuat saya pesimis dan tidak semangat, ada juga di kala saya sakit, entah mengapa, saya merasa optimis bisa sembuh. Tebak, saya lebih cepat sembuh di saat yang mana?

Sebuah studi berkepanjangan membuktikan hal serupa. Lee dan rekan-rekannya tahun 2019 menemukan bahwa orang dengan optimisme lebih tinggi biasanya hidup lebih panjang dan sehat ketimbang yang rendah.

Alasannya?

Mereka lebih percaya bahwa apa yang mereka lakukan akan membuahkan hasil dan berimbas positif. Sehingga, mereka akan lebih berperilaku sehat dan melakukan apa yang bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan raga. Buktinya, mereka bisa hidup lebih lama!

Tapi, di lain sisi, optimisme juga ada ‘resiko’-nya. Setidaknya secara finansial.

Profesor Dholakia dari Rice University, Texas, mengemukakan bahwa orang yang optimis, cenderung melakukan investasi yang lebih beresiko. Wanita yang lebih pesimis dari pria, cenderung mengambil keputusan finansial yang lebih matang!

Tidak hanya itu, orang dengan optimisme tinggi cenderung lebih besar berani menaruh resiko. Mereka juga cenderung untuk tidak menabung untuk masa depan. Kuncinya, kata sang profesor, adalah jangan membuat goal yang terlalu panjang berdasarkan optimisme belaka. Optimisme dalam keuangan lebih cocok untuk goals jangka pendek.

Alasannya?

Seperti yang saya sebutkan di atas, semuanya tergantung kontrol (dan tidak mudah yaa mengontrol diri itu). Lebih mudah untuk menghemat uang satu juta Rupiah bulan ini ketimbang berjanji pada diri sendiri untuk menabung total sepuluh juta Rupiah di akhir tahun. Kontrol yang kita miliki jauh lebih kecil!

________________________________________________________________________________

Mengapa kita membahas topik ini? Soal kesehatan dan keuangan itu hanya sekadar contoh peran optimisme dalam kehidupan sehari-hari. Yang ingin saya tekankan di sini adalah, jangan pernah mengambil keputusan berdasarkan harapan belaka.

Share the article

5 Comments

  1. Terkadang sugesti itu bermain selain optimis… karena kata Allah, Aku seperti prasangka hambaKu.. jadi skr sy mulai belajar untuk selalu optimis menghadapin apapun, karena yakin Allah akan selalu bersama saya, kun faya kun kata Nya… karena apa yg menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah, termasuk dalam hal kesehatan dan finansial, saya selalu melibatkan Allah dalam mengambil keputusan.

    1. setuju,.. do’a menjadi wujud optimisme dan mensugesti diri sendiri.

  2. Terkadang rasa optimis selalu di bentrokan dengan logika. Kita berusaha untuk tetap optimis, tapi kadang ketika dilakukan pengukuran dengan logika-logika, rasa optimis itu mulai memudar menjadi pesimis.
    Maka ketika rasa optimisme bentrok dengan logika, harus di tambahkan dengan berserah diri kepada Allah untuk di berikan hasil yang terbaik.

    1. yess… kemudia InsyaAllah akan dituntun kembali ke optimisme

  3. Setiap yg hadir dlm hidup kita semua sudah diatur Allah SWT, dan yakin baik buruknya peristiwa yg hadir itu semua bentuk kasih sayang Allah dan pastilah tujuannya utk kebaikan kita, hasil dr action peristiwa tersebut adalah Hikmah. Dan proses Pencapaian hikmah dr setiap peristiwa yg kita alami tergantung seberapa besar keyakinan kita terhadap ketetapan Allah tersebut. Semoga kita semua selalu dlm Pertolongan Allah SWT.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *