merasa atraktif

Bagaimana Psikologi Bisa Membantu Dirimu Merasa Lebih Atraktif?

Sebelum membaca artikel ini, coba tanyakan pada dirimu sendiri. Apakah kamu merasa atraktif? Apakah kamu merasa percaya diri tampil di publik atau di depan orang lain? Apa yang kamu suka dari dirimu? Apa yang tidak? Apa bagian dari tubuhmu yang paling bikin kamu insecure? Coba renungan sejenak dan pikirkan jawabannya.

Loyal readers, secara sadar maupun tidak, dalam sehari-hari kita mengambil puluhan hingga ratusan keputusan untuk tampil baik di hadapan diri sendiri dan orang lain. Berdandan, memakai jas, menyisir rambut, memakai parfum, duduk tegap, tersenyum, menutup mulut ketika menguap, dan berjalan dengan cara tertentu merupakan beberapa contohnya.

Preferensi orang, bisa berbeda-beda. Misalnya, mungkin ada cowok yang mengandalkan jas, sepatu bersinar, dan pomade. Ada juga perempuan yang pakai foundation dan lipbalm saja sudah cukup sebelum keluar rumah.

Tapi, apakah kita benar-benar harus mengandalkan barang-barang tersebut untuk merasa atraktif dan bisa ‘diterima’ publik? Apa yang terjadi bila makeup, setelan jas, dan parfum hilang? Apa pula yang akan terjadi, bila kita tetap tidak merasa atraktif setelah mencapai berat badan ideal, mengikuti tutorial makeup dari influencer ternama, dan sudah beli sepatu branded?

Bagaimana sih, kita tetap (bahkan lebih) bisa merasa atraktif tanpa barang-barang tersebut?

Apa sih yang membuat kita atraktif (atau tidak)?

merasa atraktifAda beberapa faktor yang membuat menentukan tingkat keatraktifan diri. Hampir semuanya dibentuk secara sosial, sehingga merupakan konstruksi sosial. Artinya, nggak ada hukum mana pun yang mengatur. Misalnya, tren kecantikan dan busana. Seringkali dikarenakan orang terkenal atau orang banyak mengenakannya, kita jadi tertekan untuk mengikuti.

Selain itu, konteks juga cukup berpengaruh. Misalnya, ketika harus tampil di publik, di depan orang yang kita anggap penting, di depan orang yang kita sukai, dan di acara-acara tertentu. Ingin atau tidak, kita jadi punya standar yang berbeda-beda tentang apa yang membuat kita atraktif atau tidak.

Selain itu, lingkungan tempat kita beraktivitas sehari-hari juga berpengaruh. Apa sih yang ‘cantik’ menurut temanmu? Apa sih yang ‘ganteng’ menurut kekasihmu? Apa sih yang selalu disebut-sebut oleh keluarga yang membuat kamu merasa atraktif, atau sebaliknya? Lama kelamaan, komentar dan pandangan orang-orang terdekatmu juga bisa mempengaruhi penilaian keatraktifan kamu pada diri sendiri.

Bener nggak sih, cantik itu dimulai dari dalam!

merasa atraktifTerakhir, yang paling penting tentu adalah dirimu sendiri! Ingat, manusia tidak lahir dengan standar keatraktifan yang fixed. Emosi dan kognisimu dalam menanggapi standar sosial lah yang membentuk standar pribadimu.

Artinya, apa aturan kecantikan dan atraktivitas yang kamu terima, tergantung bagaimana kamu menghadapinya, akan menentukan penilaian kamu terhadap atraktivitas dari dirimu sendiri.

Bila kamu tidak secara kritis mengolah informasi dan ‘aturan’ dari standar kecantikan sosial, maka kamu pasti akan mendapati dirimu selalu mengejar standar tersebut, atau tidak akan merasa atraktif terhadap dirimu sendiri. Stres bisa semakin meningkat, kepercayaan dan nilai diri bisa menurun.

Nggak salah kok, kalau dibilang rasa cantik itu dimulai dari dalam diri. Karena ya, memang kamu yang menentukan seberapa jauh kamu ingin comply alias nurut dengan standar kecantikan di media sosial dan lingkungan sekitarmu. Nggak ada hukum yang mengatur harus pakai dress ke acara pesta, ataupun harus pakai pomade di kantor kok!

Nggak salah ingin lebih atraktif, asal tahu cara yang benar

merasa atraktifSelain konstruksi sosial, kecantikan itu juga konstruksi personal! Ingat, dan manfaatkan itu! Namanya juga konstruksi, artinya punya hubungan erat dengan psikis kita (kepribadian, emosi, dan kognitif). Apa yang kamu ‘rasakan’ jauh lebih berpengaruh daripada apa yang kamu ‘lihat’.

Merasa diterima dan diperhatikan akan membuat kamu merasa lebih baik. Itulah sebenarnya efek yang ditimbulkan oleh hal seperti makeup, pakaian branded, dan tren busana terbaru. Langkah pertama yang kamu harus lakukan adalah sadar akan efek-efek yang ditimbulkan oleh hal-hal seperti ini, dan jangan biarkan penilaianmu terkunci olehnya!

Terserah kamu ingin memakai berapa banyak makeup dan aitem busana. Tapi, sebisa mungkin, setiap hari ingatkan dirimu bahwa kamu tidak selalu perlu hal-hal tersebut, dan tanpa hal tersebut pun kamu bisa tetap tampil atraktif!

Beberapa tips tambahan untukmu!

merasa atraktif Sikap dan penilaian manusia itu bisa mengubah perilakunya. Beda banget tindakan dan gaya yang ditunjukkan orang yang merasa dirinya ganteng (jalan tegak dan semangat) dan orang yang merasa dirinya tidak atraktif (bungkuk, malu, dan murung). Tapi tahukah kamu, kalau sebaliknya perilaku juga bisa mengubah sikap loh!

Cobalah lakukan hal yang akan kamu lakukan kalau kamu merasa atraktif. Misalnya, jalan dengan lebih tegap dan pandangan ke depan. Jangan malu atau minder terlepas tampilanmu. Coba lupakan insecurity kamu sejenak agar kamu tidak berjalan bungkuk atau tertutup. Kata profesor Jeremy Nicholson, sang ‘Attraction Doctor, postur itu penting!

Lebih banyak tersenyum! Menurut teori facial feedback, ekspresimu bisa mengubah mood kamu loh! Bila sering tersenyum, kamu akan lebih mudah merasa lebih baik dengan berbagai tampilan. Saya juga menyarankan untuk sapa orang terlebih dahulu dan lakukanlah komunikasi dengan ikhlas dan semangat. Lama kelamaan, kamu akan merasa lebih atraktif secara real dari dalam dirimu! Ingat, keatraktifan itu konstruksi personal!

Selain itu, impression management atau manajemen kesan orang lain juga penting. Nggak berarti kamu harus tampil bagus untuk orang lain ya. Justru artinya kamu harus bisa menangani bagaimana penilaian orang lain terhadap dirimu.

Kamu bisa lakukan ini dengan tidak melulu mengikuti aturan atau standar yang ada. Tonjolkan hal yang unik dari dirimu. Apa yang menjadi ciri khas ‘kamu’, tampilkan dan biarkan omongan orang lain. Selama nggak membuat orang lain nggak nyaman, nggak masalah! Walau berbeda, pada akhirnya mereka pasti bisa menerima.

Terakhir, jangan lupa untuk tetap hidup sehat. Olahraga, sayur, minum air, dan tidur yang cukup akan menyulitkan diri kita untuk merasa letih dan kurang semangat. Artinya, kamu akan lebih sulit untuk merasa tidak atraktif! Oh ya, profesor Susan Whitbound dari Universitas Massachusetts Boston juga menyarankan dirimu agar ‘beristirahat’ dari cermin (dan kamera)!


Cantik itu memang bisa dinilai dari luar. Makeup dan busana aitem yang bagus bisa membuat kita dinilai lebih atraktif di hadapan orang lain. Penilaian tersebut pun bisa membuat diri kita merasa lebih baik. Tapi, ingat kalau keatraktifanmu tidak melulu ditentukan oleh hal tersebut kok! Kecantikan atau lebih tepatnya penilaian tentang seberapa atraktif dirimu berasal dari dalam! Selamat merasa lebih atraktif!

Share the article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *