Menjadi Mompreneur, Apa Saja Tantangannya?

Menjadi seorang Ibu merupakan salah satu pekerjaan yang paling menantang di dunia. Menjadi Ibu yang bekerja atau mempunyai bisnis tentu lebih sulit lagi. Banyak sekali perempuan yang terpaksa harus memilih salah satu antara berhenti bekerja untuk berkeluarga dan punya anak atau meneruskan kerja. Tapi sesungguhnya, sangat mungkin bagi seorang perempuan untuk menjadi mompreneur, loh! Banyak tantangannya, iya. Itu sebabnya saya membuat artikel ini untuk membantu menjawabnya. Yuk, simak!

Prioritas selalu bisa berubah

menjadi mompreneurSeringkali orang merasa bahwa harus menentukan satu priotas dan fokus terus dengan prioritas tersebut. Tapi, kenyataannya adalah, prioritas itu bisa berubah-ubah tergantung situasi. Terlalu berpaku pada suatu hal yang dianggap prioritas, justru akan membuat kita kehilangan kontrol terhadap situasi.

Terimalah kalau terkadang, urusan anak lebih penting. Misalnya, sedang sakit dan butuh dirawat. Terkadang, urusan bisnis lebih penting dan kita perlu mengurusnya segera. Di sini, tidak berarti anak dan keluarga menjadi tidak penting. Prioritas bisa kembali pada anak dan keluarga setelah urusan bisnis yang urjen selesai.

Perlu sadar juga, menjadi mompreneur tidak selalu soal membagi waktu. Kita bisa membuat catatan dan jadwal rapi. Tapi, urusan bisnis dan anak/keluarga tidak selalu mengikuti jadwal kita, loh ya. Masalah baru bisa muncul tiba-tiba yang butuh penanganan cepat.

Penting sekali kita perlu memiliki emotional agility atau kelincahan emosional, agar kita bisa dengan fleksibel membagi energi mental kita terhadap hal yang muncul. Memiliki emotional agility juga berarti mampu menempatkan energi mental pada hal yang tepat dan tidak membiarkan stress mengganggu dan berkembang menjadi kekesalan dan temperamen yang bisa mengganggu fokus.

Cari kepuasan, bukan kesempurnaan

Salah satu kesalahan yang paling besar yang dilakukan seseorang adalah menganggap semua hal akan berjalan lancar, atau setidaknya bisa ditangani. Tapi kenyataannya, praktek beda dengan konsep dalam otak. Mengharapkan kelancaran setiap saat atau bersikeras setiap hal mengikuti keinginanmu merupakan pendekatan yang salah kepada mompreneurs.

Semakin cepat menerima kalau kita dan hal yang kita lakukan tidak sempurna, maka kita akan semakin lancar menjalankan peran seorang ibu sekaligus pemilik usaha. Kenyataan pahitnya adalah, terkadang ada bisnis yang hilang karena kita perlu fokus pada anak, dan terkadang waktu berkualitas bersama keluarga dan pasangan bisa terbengkalai karena perlu mengurus bisnis.

Keduanya merupakan hal yang tidak ideal, namun kemungkinan besar pasti akan terjadi. Di sini, saya menyarankan untuk cari kesenangan dan kepuasan. Komit sebisa mungkin setiap momen ketika memegang bisnis atau bersama anak. Jangan fokus pada perasaan ‘sayang’ atau ‘takut kehilangan’ ketika sedang tidak bisa mengurus bisnis, begitu juga dengan merasa bersalah ketika tidak bisa menghabiskan waktu bersama anak.

Mitra bisnis paling dekat

Salah satu aspek menjalankan bisnis yang paling penting tentu adalah memilih mitra atau partner bisnis yang tepat. Bagi mompreneur, mitra bisnis yang pertama adalah pasangan dan anak sendiri, bukan orang lain.

Mitra bisnis adalah orang yang tidak hanya percaya, namun juga bisa mengerti dan mau membantu kamu mengurus bisnis. Tanpa dukungan dan pengertian dari mereka, akan mudah sekali bagi kita untuk kehilangan arah dan merasa ruwet dengan urusan bisnis.

Nah di sini, tugas kita sebagai mompreneur adalah mengkomunikasikan tidak hanya sisi positif agar didukung, tapi potensi sisi negatif, seperti kekurangan waktu kualitas, membawa kerjaan pulang ke rumah, atau meminta bantuan mereka untuk berbagi tanggungjawab pekerjaan rumah.

Jelaskan bahwa ini akan sulit terjadi tanpa dukungan mereka. Ketika memulai, anak yang paham dan suami yang sudah tahu bagaimana timbal balik dan oper-operan tugas rumah tangga akan melancarkan banyak sekali hal. Tidak hanya secara teknis, namun juga secara emosional. Anak yang diberi pengertian sejak dini juga akan lebih mudah berteladan dari ibunya dalam membangun mindset bisnis, bekerja keras, dan berkomunikasi dengan dewasa.


Itulah beberapa tantangan yang perlu diketahui mompreneurs dan beberapa solusi penyelesaiannya. Sebagai penutup artikel ini, saya ingin menyampaikan kepada semua ibu di luar sana: seringkali kita dituntut untuk menjadi pahlawan super dan bisa menyelesaikan semuanya. Tapi sangat penting untuk menjaga kesehatan tidak hanya raga, tapi juga jiwa. Modal utama menjadi mompreneur bukanlah uang, tapi kesehatan fisik dan mental. Ibu dan pemilik bisnis yang sakit atau letih secara emosi akan sulit untuk menjalankan tugasnya. Maka dari itu, jangan khawatir untuk mundur sedikit sekali-sekali, dan ambil waktu untuk memulihkan diri yang capek!

Share the article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *