Bagaimana Kamu Bisa Mengontrol Amarah Lebih Baik

Karantina di rumah memang tidak menyenangkan. Tidak hanya menahan nafsu dan godaan, salah satu tantangan yang dialami banyak orang adalah mengontrol amarah dari rasa kesal. Nah, buat para pembaca setia, saya dedikasikan tulisan ini untuk membantu kalian memahami dan mengontrol amarah dengan lebih baik!

Apa itu amarah?

Mengontrol AmarahBuat yang sudah familiar dengan format saya tentu tidak asing lagi. Untuk mencari solusi terhadap suatu permasalahan, kita perlu tahu dan paham terhadap permasalahan itu sendiri. Begitu juga dengan mengontrol amarah, sebelum melakukannya, kita perlu paham dulu artinya.

Marah merupakan emosi sekunder. Artinya, marah merupakan respon emosi ketika kita mengalami emosi lainnya yang lebih primer. Misalnya seperti rasa takut, kecewa, atau jijik. Marah menjadi respon kita untuk menjauhkan atau mencegah stimulus tersebut terjadi.

Marah dan kesal itu tidak hanya muncul dalam bentuk teriakan, gertakan, dan nafas beringas loh! Marah, bahkan bila tidak ditunjukkan atau luapkan, ya tetap marah! Mengumpat dalam hati sambil cemberut, juga marah! Bedanya yang menjadi target siksaan bukan orang lain, tapi dirimu sendiri.

Marah bukan hanya bagaimana kita kasar dengan orang lain, tapi juga diri sendiri. Itulah alasan mengapa kita perlu mencari resolusi segera mungkin ketika kita marah! Nah, mari bahas bagaimana kita bisa mempersiapkan diri untuk mengontrolnya.

Selalu sadar akan kondisi diri

Mengontrol Amarah
Jangan hanya paham apa itu amarah dari teorinya saja! Mengurangi marah itu dimulai dari kesadaran akan kondisi pikiran dan suasana hati ketika marah timbul. Ketika mendapatkan stimulus atau trigger untuk marah, gunakan kecerdasan intrapersonal untuk mendeteksi kondisi tubuh dan suasana hati. Apakah kamu mulai panas dan sulit berpikir? Apakah pikiranmu tertuju pada suatu hal saja, dan punya intensi untuk melakukan intervensi kasar, seperti memarahi atau memukul?

Tapi, tantangannya adalah, sebagai manusia, kita tidak bisa mengontrol amarah semudah membalikkan telapak tangan. Ada waktunya kita akan kesulitan untuk bersabar. Nah, bila terjadi hal seperti ini, maka ketika kamu sudah sadar kamu akan marah, lakukan intervensi pada dirimu.

Lakukan time out

Mengontrol Amarah

Yep, tidak harus langsung meluap atau meredamnya. Kunci untuk mengontrol amarah terletak pada keputusan untuk menindaklanjuti perasaan yang ada. Kamu bisa menggunakan metode time out untuk mencegah kekesalan membesar dan merambat.

Time out bisa banyak cara. Bisa sesederhana meninggalkan ruangan untuk mengumpulkan kembali ketenangan. Time out bisa berupa distraksi diri dengan menonton video, atau makan sesuatu. Time out bisa olahraga, jalan santai, atau meditasi. Tujuannya adalah menurunkan amarah, sampai kamu bisa menemukan pemikiran dan strategi tindakan untuk mengatasi masalah yang membuat kamu marah.

Melakukan resolusi

Mengontrol AmarahSetelah mengambil time out dan menemukan kembali ketenanganmu, saatnya melakukan resolusi terhadap kekesalanmu. Di sini, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan. Pertama, bisa coba cari alternatif dari meluapkan amarah. Coba tanyakan, apakah ada solusi lain selain kesal. Misalnya, berdiskusi dan berbicara baik-baik.

Kedua, sayangi waktu dan energimu. Coba pikirkan, apakah hal tersebut sepadan atau worth it untuk kita menghabiskan energi dan waktu dengan kesal dan marah? Terkadang, ada saja hal yang kecil, karena marah sesaat, tampak lebih besar dan serius.

Ketiga, tentu kamu bisa melakukan konfrontasi dan berbicara langsung terkait amarahmu dengan orang yang terlibat. Namun, bila niat untuk marah sudah lewat, biarkanlah ia lewat. Jangan bangkitkan lagi ketika diskusi. Gunakan humor dan nada yang pelan, tapi serius. Gunakan kalimat yang berpusat pada sudut pandangmu, dan tidak menuduh pihak lain.

Mengontrol emosi merupakan hal yang tidak mudah dilakukan. Ada yang lebih jago melakukannya daripada yang lain. Tapi, satu hal yang pasti: semua orang bisa berlatih dan lebih baik dalam melakukannya. Hal-hal yang disampaikan di atas tentu perlu latihan agar prakteknya sempurna.


Terakhir, yang perlu diingat adalah, rasa marah hanya akan tinggal dihati selama kamu mengizinkannya. Tahu kapan perlu melepaskannya dan tidak dendam merupakan hal yang penting untuk ketenangan dan pembelajaran diri.

Salah satu hal yang bisa kamu lakukan adalah memaafkan, dan berjanji pada diri sendiri untuk melepaskannya setelah meluapkannya. Ini merupakan hal terpenting dalam mengontrol amarah, karena efeknya jangka panjang terhadap kesehatan fisik dan mental!

Share the article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *