Kebiasaan Buruk yang Perlu Ditinggal Agar Kamu Didengar

Semua orang punya suara, semua orang punya pendapat, dan tentunya, semua orang ingin didengar. Tapi, tidak semua orang ingin mendengarkan pendapat orang lain, apalagi pendapatmu. Pernahkah kamu merasakan bahwa kamu punya pendapat atau ide yang baik, tapi tidak ada yang mendengarkan, atau malah diabaikan?

Belum tentu karena egois atau keras kepala, terkadang ada orang tidak mau mendengarkanmu karena kebiasaan komunikasi yang salah. Nah, dalam artikel ini saya ingin membagikan beberapa tips agar kamu bisa lebih didengarkan.

Jangan terlalu defensif

Pasti frustrasi kalau kita ditantang atau diabaikan. Kebiasaan buruk ini seringkali membuat orang malas berbicara dengan kita di awal percakapan. Defensif atau terlalu membela pendapat pribadi cenderung muncul pada orang yang tidak merasa secure atau pede dengan pendapat dirinya.

Mereka cenderung tertutup pikirannya, karena tidak bisa menerima bahwa ada hal atau nilai yang bisa ditambahkan pada hal yang mereka utarakan. Ini bisa muncul tanpa kita sadari ketika berkomunikasi.

Berkomunikasi dengan membela seringkali berarti menangkal melakukan interupsi, dan melakukan rebutal terhadap hal-hal yang disampaikan orang lain. Jarang banget setuju, dan cenderung buru-buru serta memaksa orang lain menerima idemu. Tapi tanyakan pada diri sendiri, kamu sendiri sudah menerima pendapat orang lain belum?

Suka mengkoreksi?


Kebiasaan buruk ini juga akan membangun tembok komunikasi antara kamu dan orang lain. Suka muncul tanpa disadari kalau sudah terbiasa. Suka mengkoreksi orang lain ketika berbicara menandakan kalau kamu cenderung aktif mendengarkan secara parsial saja. Artinya di sini hanya hal buruk atau kesalahan yang difokuskan. Itu pun didengar dengan tujuan mengkoreksi.

Ada banyak alasan orang melakukan hal ini. Mungkin memandang rendah lawan bicara, mungkin sudah berasumsi ia salah apapun yang ia katakan, atau merasa dirinya lebih benar. Jadi, apapun yang dikatakan orang lain, pasti ingin ia tangkal atau perbaiki. Walaupun perbaikannya belum tentu bermanfaat atau membangun. Nggak ada salahnya ingin mengkoreksi atau mengkritisi, tapi setidaknya tunggu dulu sampai kamu mendengar dan mencerna semuanya. Terlebih lagi berbicara dengan orang yang lebih junior dari kamu.

Suka menyimpulkan atau lompat ke konklusi


Nah, ini cukup sering terjadi di dunia kerja dan pada hubungan berpasangan. Lompat ke konklusi! Fatal banget kebiasaan ini, karena melatihmu untuk tidak mendengarkan sampai habis serta menciptakan sebuah pemikiran bahwa kamu sudah paham akan orang tersebut. Menyimpulkan sebelum percakapan berakhir menandakan kamu tidak terlalu menghormati orang tersebut.

Menyimpulkan ini bisa secara diam-diam, tidak mendengarkan lagi apa yang orang tersebut katakan karena merasa sudah tahu atau menyimpulkan secara verbal, yaitu memotong percakapan menjadi lebih pendek. Ini juga bisa dilakukan secara tersirat, seperti menghela nafas panjang tak sabar, dan berpaling ke arah lain.

Agar dapat memupuk hubungan yang baik, kita perlu tetap terbuka dengan ide yang disampaikan, bahkan ketika kamu merasa sudah tahu arah pembicaraanya. Jangan biarkan egomu membuat kamu tidak ingin didengar oleh orang lain.

Pastikan kata-katamu bermakna

Agar ingin didengarkan, kita tidak perlu selalu punya kata-kata hebat atau ide cemerlang. Cenderung terabaikan, justru kata-kata sosial yang sederhana sifatnya menjadi penting sekali dalam membangun audiens yang bersedia mendengarkan kita.

Kata-kata sosial seperti terima kasih dan maaf ternyata memiliki bobot yang besar sekali, bila diucapkan dengan benar. Ucapkan terima kasih kalau kamu ingin mengapresiasi seseorang, misalnya. Jangan hanya ucapkan bila kamu membutuhkan sesuatu atau diberikan sesuatu. Dalam komunikasi, apresiasilah orang yang telah berusaha memberikan ide, atau membagikan sesuatu denganmu. Katakan dengan ikhlas, bukan sekadar angin lewat yang kamu juga akan lupakan beberapa saat nanti, seperti: “Thanks” (tanpa memandang orang tersebut ketika mengucapkannya).

Begitu juga dengan kata maaf. Sebuah kata yang tampaknya sederhana, bisa menjadi titik balik sebuah hubungan. Sangat penting untuk tidak mengucapkannya dengan murah dan tidak ikhlas. Misalnya, dengan meminta maaf berlebihan saat tidak diperlukan. Tanpa benar-benar merasa bersalah, akan mudah diabaikan orang lain. Apa lagi ketika kita mengucapkannya tanpa benar-benar merasa bersalah.


Nah, itulah beberapa kebiasaan berkomunikasi yang bisa membuat orang malas atau menghiraukan kamu. Pada intinya, agar didengarkan, kamu perlu terlebih dahulu mendengarkan dan memberikan respon yang asertif. Percaya diri atau pede tentu bisa membantu kamu menarik perhatian agar didengar, tapi jangan kepedean! Dari kebiasaan-kebiasaan di atas, ada berapa yang pernah kamu lakukan?

Share the article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *