Mengapa Berhenti Merokok Begitu Sulit?

Bagaimana tahun 2019 kamu so far, loyal readers? Sukseskah ngejalanin resolusinya yang dibuat awal tahun? Siapa yang udah drop out dari kursus dan les-lesnya? Siapa yang nggak tahan ngemil, ngerokok, dan udah minum lagi? Haha

Untuk kalian yang masih kuat, selamat ya! Jangan menyerah, terus pertahankan! Untuk kalian yang nggak kuat jalanin resolusinya, ayo baca tips menjalankan resolusi di postingan sebelumnya! Nah untuk kalian nggak tahan dan balik lagi menjalanin kebiasaan buruk, artikel ini untuk kalian!

Kali ini kita akan les teori Psikologi sedikit! Karena, saya akan membahas konsep yang namanya Disonansi Kognitif! Memang, kembali menjalani kebiasaan buruk bisa disebabkan oleh banyak sekali faktor. Tapi khususnya untuk perilaku perilaku seperti merokok, minum alkohol, dan makan-makanan yang tidak sehat, sangat mungkin disebabkan atau didorong kuat oleh disonansi kognitif!

Apa sih disonansi kognitif itu?

Oke, kita bedah dulu frasanya. Pertama, kata kognitif pasti sudah pada tahu. Artinya sesuatu yang bersifat atau berkaitan dengan kognisi, atau kemampuan berpikir kita semua. Nah, disonansi kognitif itu berarti disonansi yang terjadi pada kognisi manusia. Disonansi di sisi lain merupakan proses bertabrakannya dua informasi yang saling bertentangan maknanya.

Misalnya, ketika kita tahu bahwa suatu pekerjaan sangat tidak enak dilakukan atau sangat tidak senang dijalankan, namun tetap kita kerjakan. Otak pasti berpikir, seharusnya kita tidak melakukan sesuatu yang tidak nyaman dan menyenangkan. Namun tubuh tetap melakukannya karena takut kena marah boss atau kehilangan klien misalnya.

Contoh lain adalah merokok dan minum alkohol. Semua orang, terutama yang merokok, pasti tahu atau setidaknya sadar bahwa zat zat di dalamnya bisa berbahaya dan bahkan membunuh diri kita. Begitu juga dengan terus-terusan bergadang, makan-makanan fast food, terlalu banyak dan lama menatap layar.

Tapi, tubuh tetap melakukannya. Tentu tidak logis: bagaimana kita bisa melakukan sesuatu yang jelas-jelas tidak baik untuk diri kita? Atau kenapa kita menolak melakukan sesuatu yang baik untuk kita (berhenti merokok, misalnya).

Itulah yang disebut dengan disonansi.

Tubuh ketika terjadi disonansi

Sumber: Wisegeek

Coba pikirkan. Dalam hidupmu, apakah ada disonansi seperti itu?

Bila ada, apa yang kamu rasakan? Bagaimana kamu menalarkan dan menjelaskan tabrakan dua pola pikir yang berbeda tersebut?

Ada dua hal yang pasti terjadi dalam tubuh ketika disonansi terjadi. Pertama, pasti rasa yang sangat tidak nyaman. Berbagai keputusan dan pemikiran akan dipertanyakan. Individu mungkin bisa merasa cemas, kebingungan, dan bahkan frustrasi. Wajar, karena otak kita tidak diprogram untuk menerima dua hal bertentangan dalam kondisi wajar.

Kemudian, hal kedua terjadi. Baik emosi dan kognisi akan bekerja keras untuk memetakan kemungkinan dan solusi jalan keluar untuk ‘konflik’ disonansi ini. Berpikir keras menimbang pro-kontra akan dilakukan. Ini cukup menarik, karena secara langsung kita akan mencari sisi positifnya suatu hal yang jelas tidak baik buat kita. Aneh ya?

Jelas, solusinya cuma ada 3. Dalam kasus merokok misalnya. Kita bisa: 1) berhenti merokok; 2) menerima resiko kesehatan dan tetap merokok, serta 3) tetap menimbang-nimbang sampai bisa memilih antara nomor 1 dan 2. Pilihan pertama begitu baik, tapi pilihan kedua begitu mudah!

Bagaimana menghadapi dan meredakan (resonansi) disonansi kognitif

Sumber: WGN TV

Namanya manusia, pasti nggak bego. Orang yang tidak ingin berhenti merokok tidak bodoh kok. Bukan itu penyebabnya. Justru, penyebabnya adalah pilihan untuk merokok lebih mudah dilakukan, dan dalam kehidupannya, mungkin tidak banyak waktu dan energi yang bisa dialokasikan untuk poin pertama. Sehingga, dalam meredakan disonansi, ada beberapa hal kunci yang perlu kita simak.

Pertama adalah aspek ketidaknyamanan. Individu tidak akan secara aktif mencari informasi yang membuat disonansi. Orang yang tidak ingin berhenti merokok akan cenderung mencari informasi dan berteman dengan perokok, karena lebih menenangkan posisinya yang ingin merokok.

Salah satu hal yang bisa dilakukan, terutama untuk kamu yang ingin berhenti, adalah selalu tantang kepercayaanmu! Libatkan dirimu dengan orang yang tidak merokok. Pemaparan selektif ini akan lambat laun merubah kepercayaanmu. Bukan karena terpengaruh, tapi justru karena kamu akan lambat laun lebih nyaman dan tidak pusing berdebat antara merokok dan tidak lagi dalam diri.

Kedua, lihat perilaku apa yang lebih mudah! Tidak merokok, atau merokok. Tentu saja bagi perokok adalah tetap merokok. Bagaimana membuat pilihan ‘tidak merokok’ lebih atraktif dan tampak lebih mudah?

Caranya ada dua. Petama, kurangi frekuensi merokok. Latihan, semakin kamu mengurangi, maka semakin mudah kamu bisa melepaskannya. Nggak susah kok.

Kedua, kita bermain dengan konsep diri Ini cara yang pernah dilakukan Obama sendiri loh! Setiap orang pasti pengen punya konsep diri yang bagus. Siapa sih yang pengen dibilang orang yang tak tepat janji dan tak bisa dipercaya? Kamu pasti nggak.

Obama ketika bekerja sebagai senator dulu pernah masuk televisi dan mengumumkan bahwa dirinya akan berhenti merokok. Wah, kalau dia relapse, pasti sangat memalukan! Oleh karena itu, mau nggak mau ia harus melaksanakannya.

Coba, kamu bilang dengan keluarga, pacar, teman kampus, dan mungkin ke atasan kamu kalau kamu mau berhenti merokok! Post di media sosial sekalian! Biar nggak malu, yuk laksanakan!


Beberapa cara tersebut dirancang untuk mengubah perilaku terlebih dahulu. Agar sikapmu lebih mudah diubah! Mengubah perilakumu menjadi positif akan menimbulkan resonansi (penguatan) terhadap sikap yang positif. Lama-lama, disonansi akan lebih jarang terjadi dan menimbulkan kelemahan yang minim! Nggak hanya untuk rokok! Kamu juga bisa mencoba ini untuk banyak hal lainnya! Jangan lupa share pengalaman kamu ya!

Share the article

Leave a Comment