memaafkan

Bagaimana Kita Bisa Memaafkan Dengan Tulus, Tanpa Paksaan

Hi loyal readers, bagaimana liburan kalian? Pasti menyenangkan ya! Semoga di tahun 2019 lalu banyak memberikan pengalaman positif. Walau harga tiket lebih mahal dari tahun sebelumnya, banyak yang bisa berkumpul dengan keluarga dan bertamasya dengan lebih lancar dan terhindar macet. Tidak sedikit juga yang memulai usaha kue dan baju sampingan secara online, yaa kan

Namun, ada hal yang paling positif menurut saya bisa dilakukan untuk menutup akhir tahun 2019 dan memulai tahun 2020 adalah kemampuan untuk saling memaafkan. Pasti enak kan ya rasanya memulai awal tahun dengan “bersih”? Dan tidak hanya di Hari Lebaran saja kita berma’afan kan ya? Nah, dalam artikel ini kita akan membahas sedikit soal kegiatan memaafkan, dan bagaimana kita bisa lebih tulus dalam meminta dan melakukannya

Memaafkan dalam hari besar

Memaafkan

Peringatan hari raya apapun, umumnya memang merupakan waktu yang tepat untuk menutup kemarahan dan dendam, dan belajar untuk membangun hubungan kembali. Tidak hanya Lebaran, namun juga Imlek, Natal, Waisak, dan Nyepi. Memang, tidak semuanya identik dengan maaf-memaafkan, namun umumnya hubungan keluarga yang rusak bisa dibangun kembali, dan konflik bisa ditimbun.

Alasannya sederhana, kok. Pertama, di hari-hari raya seperti ini kita cenderung diingatkan dengan nilai moral dan positif. Emosi kita lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan perasaan juga bahagia. Sehingga, secara potensi kita sudah cakap untuk tidak memberatkan hal negatif yang sudah berlalu.

Selain itu, umumnya hari-hari besar seperti itu juga saat berkumpulnya keluarga. Yang tadinya jarang bertemu menjadi tatap muka. Yang tadinya tidak mau bicara jadi mengobrol. Kita didorong untuk berinteraksi. Di suasana kekeluargaan ini, tidak sulit untuk akhirnya kita memaafkan hal yang sudah berlalu.

Satu hal lagi yang juga berlaku untuk hari raya non-religius, seperti Tahun Baru (atau mengambil contoh dunia barat, Thanksgiving), adalah kita diingatkan terhadap waktu yang sudah berlalu. Tahun yang baru mengingatkan kita bahwa 1 tahun telah lewat, dan kehidupan menyambut awal yang baru. Ini umumnya membuat manusia tidak ingin membawa hal negatif untuk menodai sebuah permulaan yang positif.

Tapi jangan hanya bergantung dengan hari raya untuk meminta maaf dan memaafkan. Untuk terhindar dari tekanan dan mencapai well-being yang lebih positif, kita perlu belajar untuk memaafkan dengan tulus!

Manfaat dari memaafkan

Sumber: Huff Post

Meminta maaf tidak sulit. Bisa spontan keluar ketika terkejut atau merasa sangat bersalah.Seringkali meminta maaf merupakan cara kita untuk tehindar dari rasa malu dan bersalah, biar kita lebih tenang.

Tapi, bagaimana dengan memaafkan? Sebenarnya, ada manfaat tidak sih? Tentu!

Selain terhindari dari tekanan dan pikiran negatif, memaafkan mampu membuka ruang untuk pikiran yang lebih positif dan produktif, atau dalam bahasa gaulnya, membantu kita move on ke hal yang lebih baik untuk diri kita.

Secara fisik juga. Hati yang memaafkan dengan tulus akan membuat badan lebih relaks. Otot jadi tidak tegang, raut wajah jadi lebih senang, dan rasa tidak enak di perut atau sesak di dada akan hilang dan tidak akan muncul bila kita mengingat hal yang membuat kita kesal.

Terakhir, memaafkan membantu kamu membuat prioritas dan lebih dewasa secara emosional. Hubungan kekeluargaan, pertemanan, serta kesehatan diri akan lebih diprioritaskan daripada emosi. Kita akan menjadi lebih berhati-hati dalam membangun hubungan, lebih sadar akan ego dan proses emosi dalam diri, serta akan lebih maklum dan tidak mempermasalahkan masalah-masalah yang akan datang.

Bagaimana sih cara memaafkan dengan lebih tulus?

Memaafkan
Sumber: ABC Action News

Nah, untuk memaafkan memang tidak mudah. Oleh karena itu, kamu bisa mengingat beberapa hal untuk membantumu melakukannya dengan lebih tulus.

Pertama, memaafkan butuh waktu! Pengalaman traumatik yang terjadi memang sulit dilupakan. Jadi, dengan menghela nafas dan menerima maaf dalam sekejap belum tentu bisa membuatmu memaafkan orang lain. Jangan tergesa-gesa dan memaksa bila kamu tidak bisa memaafkan orang lain.

Cek kembali niat memaafkan! Bila sudah punya niat, tentu bagus karena merupakan hal pertama dalam memaafkan. Namun, bila niat tersebut sebenarnya demi hal yang destruktif, seperti membalas dendam atau ingin mencelakai, maka urungkanlah niat tersebut. Memaafkan bukan untuk mencari keadilan kok, namun justru untuk mencari ketenangan batin.

Selain itu, coba lihat seberapa menderita dirimu, atau bahkan orang yang bersalah padamu, terutama orang dekat. Kembali lagi untuk bertanya dengan diri sendiri, apakah rasa amarah, tidak berbicara, dan saling dendam merupakan cara kamu ingin hidup dan berinteraksi dengan orang tersebut? Bila tidak, mungkin bisa dilepaskan.


Artikel ini saya tulis untuk membantumu sadar akan pentingnya memaafkan. Namun, tidak berarti harus lupa atau mengabaikan hal yang pernah menyakiti dirimu. Tidak ada salahnya memaafkan namun memutuskan orang dari hidupmu. Tidak ada salahnya memaafkan namun menjaga jarak. Soalnya, memaafkan, walau bisa dijadikan landasan membangun hubungan kembali, bukan berarti kamu perlu membuka diri untuk disakiti lagi. Terakhir, memaafkan juga bukan hal yang muncul ketika orang meminta maaf saja. Memaafkan, pada akhirnya untuk kebaikan dirimu, bukan orang lain.

Share the article

Leave a Comment