Burnout Dalam Hubungan: Kok Bisa Ya?

Banyak orang yang selalu mengasosiasikan kata ‘burnout’ dengan kerja atau kesibukan profesional. Tapi tahukah kamu, kalau burnout juga sebetulnya bisa terjadi dalam hubungan sosial? Baik itu hubungan pertemanan, kekeluargaan, maupun hubungan romantis. Burnout dalam hubungan kerap terjadi pada relasi dua orang yang tidak seimbang ‘give-and-take’-nya, alias berat sebelah. Dalam artikel ini kita akan menyusuri burnout dalam hubungan, spesifiknya dalam konteks pasangan yang lebih mendalam!

Ketika burnout dalam hubungan terjadi

Serupa dengan berbagai tipe burnout di tempat kerja maupun settingan professional, burnout dalam hubungan terjadi ketika kita sedang merasakan keletihan emosional, atau emotional exhaustion, serta rasa kebuntuan atau helplessness. Hal-hal tersebut terutama kita rasakan ketika sedang bersosialisasi, seperti nongkrong, ngobrol, atau melakukan aktivitas lain bersama.

Kita tetap merasakan sayang pada orang tersebut, apalagi bila mereka adalah pasangan atau keluarga. Ingat, burnout merupakan perasaan capek atau sedang tidak kuat dalam menghadapi sesuatu, karena hal tersebut bersifat menguras banyak energi. Walau bisa menimbulkan kekesalan, merasa burnout belum tentu berarti kita membenci. Seringkali burnout dalam hubungan merupakan pertanda bahwa hubungan tersebut perlu evaluasi atau perbaikan lebih lanjut. Bukan diakhiri ya.

Apa yang menyebabkan burnout dalam hubungan?

burnout dalam hubunganKebanyakan burnout dalam hubungan bisa ditelusuri akarnya pada konflik atau isu yang tidak mendapat resolusi. Bisa jadi sebuah isu yang besar, atau pun berupa hal-hal kecil yang lama-lama menumpuk. Tapi, perlu diketahui, burnout dalam hubungan tidak terjadi begitu saja, melainkan hasil dari absennya resolusi konflik dalam jangka panjang. Ini bisa berupa pertengkaran hebat yang dibiarkan berlalu begitu saja, atau rasa risih terhadap kebiasaan-kebiasaan kecil pasangan yang tidak pernah didiskusikan atau hanya dipendam saja.

Nah, mungkin di sini kalian sudah menebak, kalau burnout ada kaitannya dengan frustrasi. Memang benar, burnout memang bisa jadi merupakan manifestasi atau perwujudan rasa frustrasi. Namun, bukan frustrasi terhadap pasangan loh. Melainkan frustrasi terhadap situasi yang tidak tampak closure atau penyelesaiannya*.

Rasa burnout datang dari ketidakmampuan kita untuk mencari solusi yang baik atas jarak atau ‘dinding’ yang membuat salah satu atau kedua pihak tidak nyaman. Berkepanjangan, maka akan menimbulkan rasa kehilangan harapan. Setiap kali berinteraksi, salah satu atau kedua pihak sudah mengasosiasikannya dengan kebuntuan. Ini bisa menjadi cikal bakal terpisahnya dua orang yang cocok.

Apa yang harus dihindari?

burnout dalam hubungan
Walau burnout dalam hubungan merupakan hal yang negatif, sebenarnya hal tersebut bukanlah hal yang tidak lazim. Wajar saja dalam suatu hubungan untuk memiliki masalah pada suatu titik, dan kemudian menyebabkan burnout.

Nah, menghindari burnout dalam hubungan bukanlah hal yang mustahil. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya, loh!

Pertama, melihat dari situasi di atas, tentu saja jangan sampai menumpuk permasalahan. Jangan menanam bibit dengki yang menyebabkan frustrasi. Salah satu aturannya ketika ada konflik yang terjadi adalah jangan sampai dibawa tidur. Seringkali konflik yang dimiliki pasangan bisa dicari resolusinya dalam waktu kurang dari sehari. Resolusi di sini artinya, walau masalah masih ada, namun emosi amarah, benci, dan dengki hilang sementara.

Waktu tidur adalah waktu inkubasi informasi dan kejadian seharian, sehingga sangat tidak bijak untuk membawa emosi negatif tentang pasangan ke dalam tidur. Masalah masih bisa diselesaikan esok, keputusan masih bisa diambil kemudian, secara bersama.

Kedua, tentu adalah komunikasi! Bukan hanya bicara dan ekspresi ya! Bila ada yang dirasa tidak nyaman dari ucapan atau perbuatan pasangan, kamu punya dua pilihan. Pertama adalah menerimanya, namun tidak memendamnya untuk dibahas kemudian hari. Kedua adalah ambil waktu dibicarakan dengan baik-baik. Tidak dimulai dengan kekesalan, amarah besar, namun asertif dan tegas bila diperlukan.

burnout dalam hubungan
Memulai pembahasan seperti ini dengan diam, ‘menyerang’, atau tidak memberikan kesempatan bagi pasangan untuk menjelaskan/berbicara bisa menimbulkan frustrasi tidak hanya pada mereka, namun juga pada dirimu, karena pelan-pelan, akan terasosiasi bahwa berbicara dengan pasanganmu, harus begitu.

Artikel ini dibuat bukanlah dengan tujuan menakut-nakuti pasangan, melainkan agar siapapun yang membaca, sadar bahwa burnout dapat terjadi dalam hubungan mereka. Paham bagaimana itu bisa terjadi, ciri-cirinya, dan cara menghindarinya merupakan langkah-langkah utama untuk hubungan anti-burnout yang lebih membahagiakan kedua pihak.

Share the article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *