neuro edukasi

Belajar Bisa Lebih Efektif dengan Neuro-Edukasi!

Halo loyal readers! Seberapa sering kalian mempelajari hal yang baru setiap bulan, atau bahkan setiap tahunnya? Untuk menjaga perkembangan otak yang optimal, belajar hal baru dengan rutin itu sangat penting loh. Terutama untuk kita yang sedang berada di usia produktif! Tentu saja, hal yang dipelajari itu perlu relevan dan berguna, artinya bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Selain itu, bagaimana kamu mempelajarinya juga menjadi penting. Belajar tentu bisa dengan banyak cara. Salah satu yang paling populer yang sering diajarkan sejak kecil adalah menghafal (ketimbang dari memahami). Tidak hanya dalam belajar bahasa, tapi juga dalam ilmu aplikatif.

Umumnya, menghafal keras dan memaksa informasi ke dalam otak kita bisa memberikan hasil yang baik, namun hanya bersifat sementara. Kita akan menjadi sulit mengingatnya dalam jangka panjang, dan akan cenderung bergantung padanya bila ingin belajar hal baru.

Padahal, di zaman sekarang yang semuanya serba canggih, ada cara belajar yang lebih efektif dan cocok buat anak kecil hingga orang dewasa. Saatnya kita kenalan dengan pendekatan belajar Neuro-edukasi!

Apa itu Neuro-edukasi?

neuro edukasiBila dilihat dari namanya, mungkin sudah ketahuan garis besar dari metode ini. Neuro-edukasi atau pendidikan berbasis neurosains, merupakan metode pembelajaran yang memanfaatkan strategi ilmiah berbagai ilmu, dari ilmu pendidikan, perkembangan, neurologi (ilmu syaraf), psikologi, dan lain-lain.

Dalam pendekatan neuro-edukasi, kita mempertimbangkan kapasitas otak, kemampuan unik individu masing-masing dalam melakukan pembelajaran. Tidak jarang cara belajar yang efektif ini diimbangi dengan riset, temuan ilmiah, dan eksperimen-eksperimen neuro-psikologis lainnya. Tujuannya adalah biar kita bisa lebih efektif lagi dalam belajar. Artinya tidak membuang waktu atau tenaga berlebih untuk mendapatkan informasi yang sama.

Bedanya dengan pembelajaran tradisional

neuro edukasi
Pasalnya, metode tradisional yang sering sekali kita gunakan untuk mendapatkan dan menyimpan informasi seringkali bergantung pada dua hal, waktu dan energi saja. Banyak sekali pendidik atau pun pelajar yang berpendapat bahwa semakin sering diulang-uang atau semakin banyak waktu yang dicurahkan untuk membaca/menghafal/mempraktekkan sesuatu, semakin mudah kita akan menguasainya.

Walau cara tersebut tidak salah, tapi jelas tidak efektif. Itulah sebabnya dalam mempelajari satu hal yang sama, beda orang akan menguasainya dengan kecepatan yang berbeda-beda. Kebanyakan sistem pendidikan cenderung menyamakan kemampuan dan cara kerja otak semua orang.

Padahal latar belakang, minat, dan bakat yang berbeda sangat mempengaruhi cara kerja otak setiap orang. Sehingga, ini mempengaruhi mereka dalam mendapatkan informasi baru. Tidak hanya otak, neuro-edukasi juga mempertimbangkan pada sistem indera kita, sebagai penerima informasi serta kondisi tubuh yang optimal dalam mempelajari informasi baru.

Pentingnya mempertimbangkan peran otak

neuro edukasiPrinsip utamanya secara mendasar adalah selalu mempertimbangkan otak dalam belajar. Terdengar obvious banget ya? Tapi dalam praktek justru jarang dilakukan. Kebanyakan hanya mengandalkan mekanisme short-term memory atau working memory saja yang bersifat sementara, dan tidak menyimpan informasi dalam jangka panjang. Padahal, informasi akan lebih melekat dan mudah diaplikasikan kalau sudah disimpan dalam long-term memory. Nah, cara untuk menyimpan informasi jangka panjang inilah yang menantang.

Ada beberapa kaidah soal otak (yang pernah saya sebut dalam artikel sebelumnya) yang penting untuk kita ketahui. Coba saya jelaskan tiga dulu ya! Pertama, otak bersifat plastik. Artinya, punya potensi untuk selalu berkembang. Tidak heran kalau ada lansia yang masih bisa diajarkan untuk menggunakan gadget baru, atau mengemudi mobil pintar. Pandangan bahwa otak kita terbatas justru meyakinkan otak kita bahwa kemampuannya terbatas.

Hal tersebut membawa kita pada poin kedua. Otak kita tidak jarang mengandalkan asosiasi untuk menyimpan informasi. Ini yang membantu kita sebagai manusia untuk bertahan hidup. Malam dan kegelapan terasosiasi dengan bahaya, sehingga kita lebih wanti-wanti bila keluar malam. Senyuman terasosiasi dengan keamanan dan keramahan, sehingga kita lebih tenang di hadapan orang yang senyum ketimbang murung. Nah, keyakinan dan asosiasi yang dibuat oleh diri kita akan mempengaruhi respons kita terhadap hal yang kita hadapi.

Ketiga, otak kita selalu berubah setiap mempelajari atau menguasai hal baru. Ini dikarenakan setiap mempelajari hal baru, otak kita membentuk sistem atau hubungan neuron yang baru. Terlebih lagi bila pelajaran baru tersebut mendatangkan pengalaman positif. Mekanisme neuron yang baru terbentuk ini akan semakin diperkuat. Bagaimana kamu mempelajari informasi atau keterampilan baru kedepannya akan dipengaruhi oleh bentukkan sistem informasi baru ini.

Menerapkan konsep neuro-edukasi dalam keseharian

neuro edukasiHampir tidak mungkin untuk menjelaskan seluruh konsep dan penerapan neuro-edukasi dalam satu artikel. Namun, saya bisa memberikan beberapa saran bagi teman-teman yang ingin belajar dengan lebih efektif dengan metode ini.

Pertama, banyak membaca artikel ilmiah soal penelitian neuro-edukasi. Bikin ‘alert’ di Google misalnya kalau ada artikel atau situs yang memunculkan hal baru soal topik ini. Semakin kamu paham cara kerja otak, maka kamu akan semakin efektif dalam belajar!

Kedua, kenali dirimu sendiri. Belajar merupakan proses yang tidak ada habisnya. Namun, kamu tetap perlu memperhatikan kapan dan di mana saat belajar yang paling tepat. Belajar pada mood, waktu, dan kondisi tubuh yang tepat tidak hanya akan mengganggu penyerapan informasi, tapi juga niat belajar secara berkepanjangan.

Terakhir, jangan lupa untuk menerapkan hal yang sudah kamu pelajari dan melakukan eksperimen. Cara yang efektif tidak hanya satu. Setelah menemukan metode baru, langsung praktikkanlah. Meditasi sebelum belajar, membaca di saat otak sedang mengeluarkan gelombang tertentu, melakukan praktek di ruang alam, merupakan teknik-teknik yang cukup populer dan dipandang efektif loh!


Neuro-edukasi bukanlah aliran metode pembelajaran yang rumit. Justru, pendekatan ini merupakan sebuah konsep tentang diri kita. Kuncinya adalah selalu mencari cara ilmiah yang efektif dan tidak hanya belajar dengan satu cara yang diajarkan semenjak dulu. Pembelajaran perlu selalu dikembalikan ke akarnya, yaitu otak dan sistem saraf. Melakukan pendekatan yang benar, maka proses pembelajaran akan semakin efektif.

Share the article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *