Mitos Psikologi

Tiga Mitos Psikologi yang Sebaiknya Kamu Cari Tahu Kebenarannya

Belajar Psikologi sungguh bermanfaat bagi saya. Tidak hanya membantu saya memahami lebih banyak tentang diri saya sendiri, namun juga orang-orang di sekitar saya, dan bagaimana dunia ini bekerja. Bila memungkinkan, saya pikir semua orang perlu belajar Psikologi semenjak duduk di bangku sekolah!

Pasalnya, walau Psikologi bisa berguna bagi setiap orang, tidak semua orang tahu bagaimana Psikologi bisa membantu kita dan orang-orang di sekitar kita untuk tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Bahkan, kebanyakan orang awam, masih bingung dan percaya dengan mitos Psikologi.

Memang, Psikologi mempelajari hal yang abstrak dan sulit diukur, seperti pikiran, afeksi/perasaan, perilaku, dan kepribadian. Namun, untuk orang yang salah tanggap terhadap topik-topik ini bisa membuat Psikologi (dan orang-orang yang mempelajarinya) ditakuti atau diminati dengan alasan yang salah. Misalnya, takut dibaca pikirannya atau mau belajar Psikologi karena ingin ‘berobat berjalan’.

Kali ini, saya akan coba membedah 3 mitos Psikologi yang sering banget dianggap benar oleh orang. Semoga setelah membaca tulisan ini, kamu bisa lebih paham dan tertarik dengan Psikologi ya!

Psikolog dan semua yang belajar Psikologi punya kekuatan super (bisa membaca pikiran)

Mitos Psikologi
Kalau saja saya bisa baca pikiran Anda!

Inilah salah satu mitos Psikologi yang paling bikin jengkel dan greget. Ketika dulu kuliah, baik saudara, tetangga, maupun supir taksi ketika tahu kuliah apa selalu bilang “bisa tahu kepribadian saya dong” atau “bisa baca pikiran saya, berarti mesti hati-hati!”. Sungguh kebingungan ketika pertama kali ditanya begitu.

Namun, sekarang saya yang sudah menjalaninya cukup lama, bukan rahasia lagi kalau memang miskonsepsi ini bagi masyarakat Indonesia yang baru mengenal Psikologi beberapa dekade lalu. Bagi kamu yang pernah belajar atau punya pekerjaan terkait dengan ilmu Psikologi, pasti pernah mendengar kalimat ini. Bagi kamu yang tidak, jawabannya adalah Psikologi tidak memberikan kekuatan untuk membaca pikiran atau melihat kepribadian! Psikolog bukan cenayang

Hal yang bisa dilakukan seorang Psikolog adalah memahami diri orang lain, dan mungkin memprediksi perilaku dan cara berpikir. Itupun butuh teknik-teknik pembelajaran khusus yang butuh latihan dan praktek lama. Dalam prakteknya, apabila syarat-syarat hubungan dengan pasien tidak dipenuhi (misalnya, tidak mau terbuka), maka sulit sekali untuk bisa ‘membaca’ dan menganalisa.

Lagipula, Psikologi, tidak melulu soal kepribadian kok!

Asal usul gangguan kesehatan mental selalu berasal dari dalam diri

Mitos Psikologi

Psikologi juga soal membantu orang lain, terutama orang yang menghadapi gangguan kesehatan mental. Sederhananya, gangguan kesehatan mental seperti postingan saya sebelum-sebelumnya merupakan gangguan yang menyebabkan tidak berfungsinya diri kita terutama dari segi mental. Artinya, sulit bagi kita untuk berfungsi seperti biasa, karena ada masalah pada mental yang disebabkan oleh trauma, stres, dan tekanan berlebih.

Tapi, ternyata banyak yang berpikiran bahwa gangguan atau permasalahan yang berkaitan mental dalam diri mereka berarti ada yang ‘salah’ dengan kepribadian atau otak mereka. Tidak hanya klien, tapi juga teman, dan beberapa orang kenalan yang saya temui.

Banyak yang merasa ada yang bisa diperbaiki dalam dirinya. Benar, tapi tidak selalu dengan obat karena gangguan kesehatan mental tidak boleh dianggap seperti sakit fisik pada umumnya. Ada ketidakseimbangan hormon, iya. Tapi tidak semua kasus. Ada pengaruh biologisnya, ada. Tapi bukan selalu penyebabnya.

Ingat bahwa gangguan kesehatan mental itu banyak faktornya. Faktor ekonomi misalnya, juga bisa menyebabkan tekanan pada mental yang berlebih. Tidak punya uang makan, terlilit hutang, atau tidak punya biaya mencari bantuan sehingga memperparah kondisi. Faktor sosial misalnya, tidak ada dukungan keluarga, stigma masyarakat yang mencap buruk gangguan kesehatan mental dengan kata gila, mencari perhatian, atau hal-hal negatif lainnya.

Ketika berhadapan dengan gangguan mental, dalam bentuk apapun, banyak hal yang perlu dikaji dan dilihat sebelum kita langsung nge-judge diri Anda maupun orang lain.

Semua yang ‘di buku’ adalah benar

Mitos Psikologi
Nah, ini yang paling menarik menurut saya. Bahkan, masih ada pelajar Psikologi yang percaya dengan mitos ini. Sebenarnya, tidak semua yang Anda baca soal Psikologi itu benar, baik di buku dan di artikel, bahkan di jurnal penelitian sekalipun!

Memang ada teori dan pemahaman Psikologi yang bisa kita terapkan untuk banyak orang. Namun, kalau kita tinjau kembali, banyak sekali teori dan cara pemahaman manusia itu ‘impor’ dari luar negeri, terutama dari Eropa dan Amerika yang budayanya homogen alias mirip-mirip.

Padahal, bila diterapkan, belum tentu cocok dan efektif digunakan untuk memahami orang-orang di Indonesia. Konsep seperti ‘nrimo’ dari masyarakat Jawa itu tidak dipelajari dalam buku Psikologi modern. Begitu juga dengan konsep berkabung. Kalau dalam buku manual diagnosa gejala kesehatan mental (DSM), berkabung terlalu lama termasuk dalam gangguan mental menurut definisinya. Namun, di Indonesia tak jarang kita menemukan proses berkabung yang ‘diperpanjang’ seperti kembali mengingat pada hari ke 40, 100, dan 1000 setelah kematian seseorang.

Jarang sekali teori ‘modern’ mempertimbangkan budaya dan aspek keragaman yang ada pada masyarakat seperti di Indonesia. Makanya, banyak sekali fenomena Psikologi yang tidak bisa dijelaskan apabila mengandalkan teori-teori itu saja. Tidak aneh kalau Psikologi Budaya, Psikologi Ulayat, Psikologi Spiritual, dan Psikologi Indonesia lebih berkembang belakangan ini.

Belajar teori boleh-boleh saja, tapi jangan lupa juga konteks budaya negeri kita ini ya! Ambil kerangka dan cara berpikirnya saja, tapi isinya kita lihat lagi ke dalam kondisi negeri kita.


Itulah 3 mitos paling berbahaya menurut saya ketika seseorang ingin belajar atau mencari tahu lebih banyak tentang Psikologi. Soalnya, bila mitos pertama yang kamu percaya, maka tujuan Psikologi yang baik menjadi negatif dan mungkin sedikit mistis. Apabila mitos kedua yang kamu percaya, maka gangguan kesehatan mental akan semakin sulit diatasi karena pendekatan kita untuk memahaminya saja sudah salah.

Terakhir, apabila mitos ketiga yang kamu percayai, maka artinya kita mengesampingkan keunikan masyarakat Indonesia dan dipaksa untuk mencocokkan dengan teori kajian barat yang sangat berbeda.

Bagaimana, tertarik untuk belajar Psikologi lebih lanjut?

Share the article

Leave a Comment