Dessy Ilsanty, M.Psi

Rubrik Tanya Jawab

Tanya:

Nama saya Jihan, saya sedang menjalin hubungan dengan seorang lelaki seusia. Awal perkenalan kami difacebook, dia sangat menarik perhatian saya. Orangnya sangat romantis dan humoris. Belakangan saya tahu kalau dia ternyata tidak kuliah dan tidak bekerja juga, sementara saya menyelesaikan study semster akhir. Awal hubungan saya tidak mempermasalahkan, saya menerima dia apa adanya. Tetapi setelah 3 bulan berjalan dari keluarga saya sudah memprotes hubungan saya. Teman kuliah saya seperti tidak mau menerima kehadiran pacar saya, dan perlahan saya menjahui mereka. Sebenarnya saya sudah mualai tidak nyaman, dan entah kenapa setiap kami bertengkar, saya merasa tidak bisa jauh dari dia. Apakah saya harus putus? Atau meneruskan hubungan ini?

Jihan

Jawab:

Halo Jihan,
Bisa dibayangkan betapa senangnya kamu ketika bertemu dengan lelaki yang menarik, romantis dan humoris ya.  Saya rasa hampir semua perempuan juga pasti akan senang jika bisa menjalin hubungan dengan lelaki seperti itu.  Pastinya kamu mengharapkan akan ada banyak kesenangan ketika menjalin hubungan dengan sang pacar ini.  Jadi, kalau dari hubungan yang sedang dijalani ini justru memunculkan perasaan tidak nyaman, sepertinya kamu harus menelaah kembali hubungan kalian.  Buat apa menyiksa diri dengan merasa tidak nyaman? Apakah kamu benar-benar rela merasa tidak nyaman demi bersamanya? Rela menjadi jauh dari teman dan keluarga? Jihan sudah bersama pacar selama 3 bulan, wajar jika kebersamaan dengannya sudah menjadi suatu
kebiasaan.  Tanpa hadirnya pacar, terasa ada sesuatu yang kurang. Tapi apakah perasaan itu akan bertahan seperti itu lama? Yang penting buat Jiha, adalah jujur kepada perasaan diri sendiri.  Hanya Jihan yang paling tahu jawabannya.

 

Tanya:

Saya punya mantan pacar dulu kenal di sebuah forum UG. Sekarang saya sudah keluar dari forum UG tersebut sejak saya putus dengan dia di bulan Mei 2012. Tapi entah kenapa, dia terus mengikuti dan membaca diary online saya menggunakan ID baru, tapi saya tahu dari IP-nya yang sama. Yang ingin saya tanyakan, kenapa ya dia terus memantau saya? Padahal tidak ada satupun tulisan saya tentang dia. Dan kalau memang masih cinta, kenapa dia pernah bilang ke saya supaya saya tidak mengganggu dia saat saya SMS dia? Dan kalau memang masih cinta, kenapa dia terus tidur dengan WTS (dia punya kebiasaan begitu)? Saya sejujurnya masih mengharapkan dia, tapi dia pernah bilang supaya saya tidak mengganggu dia. Dan dia yang meminta kami menjadi teman. Bukan saya yang memutuskan dia

Sharon

Jawab:

Halo Sharon,
Sepertinya perilaku si mantan ini memang membingungkan ya. Satu ketika dia bilang tidak ingin diganggu, tetapi ketika lain dia sendiri seperti terus berusaha mendekatkan diri dengan anda. Tentunya anda yang mengenal si mantan, lebih dapat memahami mengapa dia seperti itu. Tetapi mungkin akan dapat lebih jelas apabila anda dapat memastikan bahwa, apakah dia melakukan hal tersebut karena cinta? Daripada memikirkan kenapa dia berperilaku seperti itu, sebaiknya dikomunikasikan secara langsung saja dengan si mantan.
Sebaiknya utarakan secara baik-baik tentang perasaan anda kepada si mantan, yang dibuat bingung oleh perilakunya. Utara dengan jelas hal-hal apa saja yang membuat anda bingung. Kondisi seperti ini akan dapat terselesaikan dengan adanya komunikasi. Kalau hanya dengan menduga-duga saja, bisa saja terjadi kesalahpahaman. Semoga Sharon bisa ada kesempatan untuk berkomunikasi dengan si mantan ya, agar supaya kebingungannya dapat menjadi lebih jelas.

 

Tanya:

Saya sudah pacaran dengan kekasih saya hampir 12 tahun. Tapi sampai sekarang masih tidak disetujuin sama orangtua saya. Lalu saya pernah menyuruh pacar saya menikah dengan orang lain dan ternyata setelah dia menikah dengan orang lain, malah dia bercerai juga dan akhirnya kembali lagi ke saya. Sekarang orangtua saya semakin lebih tidak setuju saya pacaran sama dia. Saya bingung harus bagaimana?  Menurut orangtua atau tetap menjalani hubungan ini sampai dapat restu? Terimaksih

Alia

Jawab:

Halo Alia,
Wah sepertinya permasalahannya cukup pelik ya, mengingat anda sudah berpacaran lama sekali. Satu hal yang perlu selalu diingat adalah, ketika kita mengambil sebuah keputusan, sadarlah bahwa akan ada konsekuensi yang menyertai keputusan kita tersebut. Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan, pikirkan baik-baik apa saja konsekuensi yang akan menyertainya. Apakah sanggup menanggung konsekuensi tersebut (jika tidak menyenangkan)?
Dalam kasus yang Alia hadapi, apa saja konsekuensi yang menyertai jika menuruti orangtua? Misalnya, akan kehilangan orang yang saat ini dicintai. Lalu juga, apa saja konsekuensinya jika anda tetap menjalani hubungan ini sampai mendapat restu orangtua? Misalnya, semakin tertundanya waktu untuk menikah dan berkeluarga. Kemudian dipikirkan bagaimana akan menyikapi konsekuensi yang akan dihadapi tersebut. Setelah dapat menjabarkan semuanya, mungkin Alia akan lebih dapat menimbang-nimbang pilihan mana yang sebaiknya diambil, dan langkah apa yang akan dijalani dalam menerima konsekuensinya. Semoga cepat mendapatkan pencerahan dalam hubungan kasih Alia ya

Tanya:

Saya pacaran sudah 2 tahun dan setiap ada masalah kekasih saya mencari hiburan sendiri, entah itu dengan mantannya ataupun kenalannya di media sosial. Kekasih saya tak mau kita berteman di media sosial. Menurut saya itu akan menyulitkan dia untuk mencari teman disaat masalah hadir lagi. Saya letih merasakan kecemburuan itu. Saya sudah menasehati, tapi tetap saja tak dihiraukan. Jujur ini sangat menyakitkan. Apa yang harus saya lakukan agar dia dapat merubah sikapnya? Atau kita harus mengakhiri semuanya?

Siska

Jawab:

Halo Siska,
Umumnya rasa cemburu itu memang selalu ada dalam sebuah hubungan percintaan ya. Bahkan katanya, rasa cemburu itu bisa menjadi ‘bumbu’ yang kemudian justru dapat mempererat hubungan diantara mereka.  Tetapi memang, kalau terus menerus merasa cemburu tanpa ada solusi yang menenangkan, sepertinya akan melelahkan juga ya.  Coba Siska tanyakan pada diri sendiri terlebih dahulu, apa saja alasan dan tujuan anda menjalin hubungan dengan kekasih anda saat ini?  Saya yakin, “untuk mendapatkan perlakuan yang menyakitkan” tidak termasuk dalam daftar anda, bukan?  Barangkali yang termasuk dalam daftar adalah, “ingin mendapatkan kasih sayang dan kebahagiaan”.  Apakah anda sudah mendapatkan hal tersebut? Suatu upaya yang wajar jika anda berusaha untuk merubah periklaku kekasih dengan menasehatinya.  Tetapi kalau tidak dihiraukan, bisa jadi si dia memang tidak memiliki dorongan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik (bagi Siska).  Untuk lebih meyakinkan diri, anda bisa mencoba untuk menjabarkan hal positif dan hal negatif apa yang ada jika anda terus berada di hubungan saat ini.  Kemudian ditimbang-timbang, lebih berat di hal positif atau hal negatif.  Akan lebih mudah untuk berfokus pada apa yang bisa dilakukan oleh/untuk diri sendiri, daripada berfokus pada merubah perilaku orang lain.  Mudah-mudahan Siska segera terbebas dari kebimbangan ya.

Tanya:

Saya menjalani hubungan LDR, sebelumnya kami pernah break tapi lalu kami nyambung lagi dan tidak ingin berpisah lagi dan akan sama sama pertahankan hubungan ini. Walau jarang bertemu, tapi komunikasi kami tetap lancar, saling mengerti, dan sama-sama jujur. Sampai pada akhirnya, ada masalah dalam keluarganya yg harus dia selesaikan. Saya tahu tentang itu dan fokusnya saat ini tertuju pada hal tersebut. Dia merasa punya beban mental pada saya dan saya takut membebaninya, tapi ingin rasanya tetap berada di sampingnya apapun yang terjadi dan mengunggunya sampai mesalahnya selesai walau entah kapan. Namun dari pihak keluarga, ingin saya menikah karena saya anak pertama dan adik di bawahku sudah punya rencana untuk menikah. Banyak yang bilang, saya harus membuka hati untuk yang lain, tapi itu sulit buat saya. Apa yang harus saya lakukan?

Dita

Jawab:

Halo Dita, sepertinya anda termasuk salah seorang yang beruntung karena menemukan pasangan yang dapat saling mengerti, saling jujur, memiliki komunikasi yang lancar dan sama-sama mau berusaha untuk mempertahankan hubungan.  Memang sangat disayangkan apabila keadaan tersebut “diganggu” oleh faktor luar yang juga penting dan tidak terelakkan.  Sebenarnya baik adanya apabila anda mau mendampingi kekasih dalam menghadapi permasalahannya.  Anda bisa menjadi pendukung yang dapat menguatkan mentalnya.  Akan tetapi, keberadaan keluarga anda sendiri juga tidak dapat diabaikan begitu saja.  Mereka juga merupakan orang-orang yang penting bagi kehidupan anda.  Sehingga, tuntutan yang timbul dari keluarga anda juga sepatutnya didengarkan dan dipertimbangkan.  Dalam kasus ini, langkah apa pun yang akan anda ambil, sepertinya memang tidak akan mudah dan terasa sulit bagi anda.  Tetapi bukan hal yang tidak mungkin, bukan? Anda mengatakan, “menunggunya sampai masalahnya selesai walau entah kapan”.  Ketidakjelasan akan waktu penantian, menjadi hal yang patut dipertimbangkan. Padahal keluarga anda menuntut kejelasan segera karena adik yang sudah berencana menikah.  Apabila memang kondisinya mengharuskan anda untuk segera membuat keputusan agar adik dapat segera menikah, dan kekasih anda tidak dapat memenuhi harapan anda, berarti anda memang harus memikirkan alternatif lain.  Jabarkan alternatif-alternatif apa saya yang memungkinkan (terlepas dari sulit atau mudahnya hal tersebut).  Setelah anda menentukan pilihan alternatif tersebut, jabarkan langkah-langkah apa yang harus anda jalankan.  Perjelas juga, tujuan dan alasan anda mengambil pilihan alternatif tersebut, karena hal ini akan menjadi dorongan dalam diri anda untuk meraih tujuan anda tersebut.  Ketika anda merasa bimbang, diingat-ingat lagi tujuan anda tersebut.  Semoga Dita dapat terus mempertahankan kebahagiaan yang seimbang antara diri sendiri dan keluarga ya