4 Alasan Menaikkan Berat Badan itu Gampang, tapi Menurunkannya Susah!

Di dunia ini, banyak hal yang tidak adil! Salah satunya adalah proses bertambah dan berkurangnya berat badan. Terutama untuk kebanyakan orang, menambah berat badan jauh lebih mudah daripada mengurangi berat badan. Memang, susah dan mudah itu relatif, sih. Akan tetapi, secara objektif setuju dong, usaha yang kita keluarkan untuk menambah 1 kilo berat badan bisa lebih mudah daripada menguranginya.

Misalnya, bagi seorang pecinta junk food, ia hanya perlu 1 atau 2 gelas kola, kemudian dipasangkan dengan kentang ukuran besar dan burger keju single. Dua hingga tiga kali seminggu maka akan terasa beratnya bertambah, karena total kalori untuk menu tersebut saja bisa mencapai 1100 sekali makan (total 3300)! Mau menguranginya? Untuk orang dengan berat badan sekitar 60 hingga 70 kg, kamu perlu berlari dengan kecepatan konsisten 166 meter per menit (10 km/jam) selama 30 menit untuk mengurangi 300 kalori.

Nggak usah keluarin kalkulator, kamu perlu berlari dengan kecepatan tersebut selama 5,5 jam untuk menghilangkan kalori tersebut saja. Ingat, ini belum termasuk makanan lain yang kamu makan loh, yang kalorinya lebih susah dihitung!

Keliatan kan susahnya? Jadi buat kalian yang resolusi tahun barunya menurunkan berat badan, di awal tahun 2019 ini, saya akan membahas dari sisi Psikologi kenapa menurunkan berat badan itu sulit, dan cara menanggulanginya!

Sudah siap, loyal readers?

Restriksi berlebihan

Bagi kebanyakan orang, terutama di awal tahun yang nggak sabar pengen kurusin badan, pandangan yang salah terhadap olahraga dan makan bisa jadi penyebab utama gagalnya resolusi.

Pasti dari kalian nggak sedikit yang sudah merasa ‘capek’ dan muak dengan prokrastinasi, kemudian bikin jadwal nge-gym, sediain porsi makan, lari pagi, dan berbagai macam regimen lainnya yang hampir tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Nah, biasanya hanya secuil orang yang akan berhasil. Karena,melakukan semuanya secara bersamaan butuh usaha dan fokus yang besar sekali. Apalagi kalau kamu punya kesibukan rutin, susah banget deh!

Cukup ideal pasti tampaknya ketika liburan penghujung tahun kita merencanakan semua ini. Ya, karena diri kita terbawa suasana relaks, tidak sibuk, dan penuh harapan untuk 2019! Banyak hal yang tidak dipertimbangkan. Satu dua minggu pertama mungkin akan berhasil, namun, lambat laun tubuh yang belum bisa beradaptasi langsung akan melakukan ‘kompromi’, yang berujung pada proses ‘diet’ yang gagal.

Misalnya, karena harus lembur terus nggak jadi nge-gym. Karena buru-buru meeting makannya mi instan. Kuncinya adalah mulai perlahan dan kecil, asal konsisten dan doable saja aktivitasnya. Jangan langsung beri restriksi terlalu besar bagi tubuh!

Kompensasi Berlebihan!

Ini yang cukup sering terjadi juga nih!

Untuk yang berhasil produktif di gym dan taman sekitar rumah, selamat! Untuk kalian yang bangga dengan banyaknya kalori terbakar, pegalnya otot-otot, dan aliran darah serta endorfin yang lancar, turut senang untuk kalian! Keep it up ya!

Jangan sampai terperangkap ‘kompensasi berlebihan’! Setelah olahraga, kita cenderung merasa lapar. Ini bukan hanya secara fisik loh! Memang perut pasti keroncongan. Tapi secara psikologis, manusia cenderung mencari equilibrium atau keseimbangan. Jadi seberapa usaha dan ‘penderitaan’ yang dikeluarkan, akan diimbangi dengan imbalan juga. Makan junk food misalnya, atau makan apapun tapi dalam jumah yang banyak

Pikirnya, “nggak apa-apa dong, kan cuma eskrim sedikit. Hitung-hitung cheat day lah. Toh, kemaren di gym sudah bakar banyak!” Tapi, logika reward dan punishment ini salah banget. Pasalnya, kita cenderung melakukan estimasi berlebih terhadap berapa banyak kalori yang dibakar (kalau nggak ada angkat, terukur dari rasa ‘capek’ yang subjektif), dan berapa banyak kalori yang dikonsumsi.

Jadinya, nggak jarang yang kita konsumsi ujung-ujungnya lebih dari yang kita bakar! Kalau keterusan, proses olahraga akan tampak tidak efektif, dan lebih cenderung tidak dijalankan.

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit

Sedikit nyambung dengan dua poin di atas nih. Manusia itu tidak sempurna, dan tidak akurat! Kalau tidak dilatih secara bersungguh-sungguh, kemampuan kita dalam menakar dan menilai sesuatu itu tidak hanya subjektif, tapi cenderung missed. Bisa estimasi berlebihan, atau meremehkan.

Olahraga dan resolusi pun sama!

Kalau tadi kita bicara olahraga berlebih dan makan terlalu banyak, sekarang kita ingin berbicara makan sedikit.

Kalori bersifat akumulatif. Gampang merasa kenyang dan merasa dapat banyak kalori ketika selesai makan. Tapi, yang cukup bahaya–terutama untuk pekerja kantoran dan mahasiswa–adalah snack!

Kalorinya nggak kalah banyak, tapi nggak mengenyangkan. Jadi seringkali kita tidak merasa bahwa ‘sedikit’ snack bisa bahaya bagi berat badan. Karena tidak ada petanda ‘kenyang’ dan ‘puas’ dari snack maka tubuh meremehkan kalori yang diresap. Seperti bunga kredit, lama-lama menumpuk. Pas mau bayar, tiba-tiba udah gede aja!

Begitu juga dengan olahraga! Jangan pernah meremehkan the power of dikit-dikit! Memilih jalan kaki ketimbang naik motor, planking setengah menit setiap hari, atau sekadar mengangkat barbel 1 kilo di meja kerja juga punya efek loh. Daripada duduk dan nggak membakar kalori sama sekali kan? Yang efektif justru bukan yang sekali dilakukan banyak, tapi justru yang sedikit, namun dilakukan berkali-kali secara konsisten!

Kondisi mental dan fisik yang buruk

Terakhir, yang nggak jarang bikin berat badan gampang naiknya daripada turunnya adalah kondisi mental dan fisik kita. Terlalu capek bekerja misalnya, akan menimbulkan nafsu makan yang tidak menentu dan kekurangan motivasi untuk berolahraga. Sakit apalagi! Kurang tidur atau kebanyakan tidur juga bisa mengganggu metabolisme dan energi dalam tubuh.

Begitu juga dengan kondisi mental. Stress, gangguan mood seperti depresi dan kecemasan terkadang berkontribusi lebih banyak terhadap berat badan! Tidak jarang orang jadi makan berlebih (atau tidak makan sama sekali) gara gara tekanan yang terlalu besar atau gangguan pemikiran intrusif yang draining. Orang-orang dalam kondisi tersebut sulit berpikir dan berakivitas seperti biasa. Apalagi berolahraga dan makan sehat dengan rutin!

Jadi, ada baiknya untuk menyelesaikan dan meregulasi isu jiwa dan raga terlebih dahulu, terutama apabila kamu sedang memiliki tekanan yang berlebihan atau gangguan psikologis sebelum memikirkan naik turunnya berat badan.

Walau hormon endorfin bisa berkontribusi positif terhadap suasana hati kita, tubuh yang tidak siap secara jiwa dan raga untuk menurunkan berat badan sebaiknya tidak dipaksa. Kegagalan untuk mencapai atau melaksanakan resolusi apabila terlalu direnungkan malah bisa berdampak lebih buruk pada raga (tambah malas bergerak, misalnya) dan jiwa (turunnya efikasi diri, misalnya).


Setiap orang tentu punya kasus yang berbeda-beda. Di atas itu hanyalah beberapa alasan yang mungkin bisa menjelaskan. Bagaimana dengan kalian? Kendala apa yang sedang kalian hadapi dalam perjalanan merealisasikan resolusi? Yuk ceritakan dan bagikan solusi kamu, biar diskusi bareng!

Share the article
error

Leave a Comment