skizofrenia

Menghadapi Skizofrenia Bersama: Pentingnya Peran Keluarga

Masih dalam bulan peduli kesehatan mental, loyal readers! Kali ini, saya akan coba membahas salah satu gangguan yang paling dikenal, sekaligus paling disalahpahami oleh banyak sekali masyarakat Indonesia, yaitu Skizofrenia!

Saya sempat membahas ini di Seminar Kesehatan Nasional 2018 pekan lalu, yang bertajuk “Let’s be Friend with Skizo-friend!”. Seperti namanya, tujuan acaranya adalah mengajak kita untuk paham dan lebih ramah (friendly) dengan gangguan skizofrenia.

Nah, biar pesan tersebut terus berlanjut, maka saya akan coba bagikan apa yang saya sharing ya! Yuk, simak!

Apa sih, Skizofrenia itu?

skizofrenia
Sumber: HealthiNation

Nah, untuk orang awam, skizofrenia mungkin suka disebut sebagai orang ‘gila’. Tapi sesungguhnya orang dengan skizofrenia lebih dari itu. Skizofrenia adalah gangguan terhadap perasaan, pikiran, dan perilaku seseorang. Tentu saja, penyebab skizofrenia tidak ada yang absolut. Kita bisa melihat skizofrenia sebagai hasil interaksi dari kerentanan seseorang terhadap gangguan tersebut dengan lingkungan yang tidak mendukung.

Gejala yang bisa kita temukan ada beberapa, misalnya, kurangnya ekspresi normal. Bisa saja seseorang dengan skizofrenia tidak memiliki ekspresi, memiliki ekspresi sangat datar, atau bahkan meledak-ledak dan tidak lazim. Begitu juga pikirannya sering kacau, terganggu, dan sulit merumuskan pikiran yang koheren. Tergantung kondisinya, perilaku yang ditunjukkan bisa mengganggu orang sekitar.

Tidak berarti kepribadian ganda, tentunya. Banyak yang menyamakan skizofrenia dengan hal ini. Bedanya terletak pada kemampuan merumuskan pikiran dan afek yang lebih challenging bagi orang dengan skizofrenia. Mereka biasanya merasa jauh dari diri mereka yang sebenarnya, merasa banyak hal tidak nyata, bisa terfiksasi dengan satu pikiran secara berulang-ulang, dan dalam kasus-kasus tertentu bisa menyebabkan bunuh diri pada akhirnya.

Stigma terhadap Skizofrenia

skizofrenia
Sumber: SB Magazine

Namun, yang lebih berbahaya dari Skizofrenia adalah stigmanya. Tidak jarang apabila mengetahui tetangga, teman, atau bahkan keluarga sendiri mengalaminya, kita akan menghindari, atau bahkan dalam kasus-kasus tertentu mengambil tindakan sendiri.

Biasanya, dikarenakan memiliki kemampuan sosial yang rendah, mereka banyak dicaci, di-bully, dan bahkan diberi kekerasan. Mungkin karena marah, melecehkan, dipandang rendah, atau hanya jijik. Padahal, skizofrenia tidak menular, dan sangat bisa dibantu untuk meringankan kondisinya. Apalagi apabila ada dukungan sosial dari keluarga dan komunitas yang tepat.

Sayangnya, banyak yang belum paham hal ini. Banyak yang mengaitkannya dengan unsur spiritual (karma, misalnya) dan paranormal. Sehingga, dari perlakuannya saja sudah tidak dianggap setara dengan manusia biasa. Pasung atau kurung juga menjadi solusi, terutama bagi keluarga yang malu atau tidak mengerti.

Akibatnya, kondisi bisa semakin parah. Pikiran dan emosi yang tadinya masih bisa dikendalikan, akhirnya menjadi tidak terkendalikan. Akibatnya, perilaku yang ditunjukkan bisa semakin ekstrem. Karena, salah satu akibat utama dari stigma sosial terhadap gangguan mental adalah membentuk perilaku yang disfungsional ujungnya hanya akan menuai perlakuan yang semakin tidak menyenangkan lagi dari orang sekitar.

Apa Peran Kita Sebagai Orang Sekitar?

skizofrenia
Sumber: SH Connect

Sebagai orang sekitar, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk memutuskan lingkaran setan tersebut. Caranya tidak sulit, namun tidak mudah juga. Pasalnya, skizofrenia mempengaruhi kita semua. Terkadang tekanan kesehatan, psikologis, dan finansial yang besar dirasakan oleh keluarga dan teman dekat. Akan tetapi, di sisi lain, penelitian-penelitian justru banyak menunjukkan bahwa keluarga memiliki peran yang paling penting dalam perkembangan kondisi orang dengan skizofrenia menjadi lebih baik.

Kita bisa bertindak dan membiasakan diri untuk lebih peka. Ketimbang memerintah, kita bisa bertanya dulu secara lembut untuk semakin dekat dan paham dengan apa yang dialami. Dengan memahami pikiran mereka, kita jadi tahu informasi seperti apa yang mereka butuhkan, atau sedang bisa berkomunikasi atau tidak. Memahami mereka itu tidak sulit, tapi butuh kesabaran yang sangat tinggi dan lama. Coba mulai dengan pertanyaan mudah “apa kabar?” dan lihat cara jawabnya. Semakin kita mengerti, semakin mudah kita terbuka dan terdorong untuk mencari bantuan.

Hal yang utama adalah mencari bantuan. Jangan malah mengisolasikan dari lingkungan, atau menutupi kenyataan bahwa punya anggota keluarga yang mengalami. Sadarlah bahwa kita tidak bisa mengobati, kita hanya bisa meringankan. Untuk penanganan yang lebih efektif lebih baik kamu langsung rujuk ke psikolog atau psikiater.

Pasalnya, banyak hal yang berada di luar kontrol kita. Misalnya, ketika delusi datang, sulit bagi kita untuk menalar, apalagi mendiskusikan hal ini dengannya. Jadi, tidak perlu bersikeras berdebat soal kenyataan, melainkan cobalah menenangkan diri atau memahami sifat dari delusi tersebut.

Ingat, tidak ada yang salah. Bukan yang mengalami, bukan diri kamu, bukan orang lain. Bahkan ketika gejala yang dimunculkannya semakin parah walau kita sudah berusaha untuk menangani. Yang terpenting adalah memisahkan yang mengalami dengan gangguannya. Kamu tetap bisa mencintai keluargamu, walau membenci gangguannya.


skizofrenia
Terakhir, yang tidak kalah penting adalah dirimu sendiri. Memiliki anggota keluarga atau orang dekat dengan skizofrenia memang tidak mudah. Meski begitu, jangan hanya fokus ke mereka, namun melalaikan dirimu sendiri. Kesehatan jiwa dan ragamu tetap perlu dijaga. Ingat, kamu kuat dan hebat, tetapi di lain sisi juga punya kebutuhan dan batasan. Bertemu dan cari bantuan dari psikolog bila perlu. Pasalnya, kamu adalah pilar dukungan terakhir mereka. Bila kamu tumbang, ke mana lagi mereka mencari dukungan?

Share the article

Leave a Comment