pengorbanan

Pengorbanan dalam Hubungan: Alasan dan Batasan Melakukannya

Dalam berbicara perihal hubungan kasih sayang, salah satu topik yang cukup sering diperdebatkan adalah isu pengorbanan. Banyak orang yang merasa melakukannya tapi tidak dihargai, ada pula yang tidak ingin melakukannya, dan ada yang sama sama melakukannya namun masih tetap tidak bisa mempertahankan hubungannya. Sebenarnya, apakah melakukan pengorbanan itu sehat untuk suatu hubungan kasih sayang?

Artikel kali ini akan membahas makna pengorbanan, pentingnya, bagaimana melakukannya, dan bagaimana mengenalinya.

Yuk, kita simak bersama!

Pengertian Pengorbanan atau Sacrifice

pengorbanan
Sumber: TopTen

Pengorbanan merupakan konsep yang cukup sentral dalam hubungan kasih sayang (bisa hubungan keluarga, antar teman guru dan murid, atau hubungan romantis–tapi dalam konten ini akan lebih condong mengarah ke hubungan romantis). Aksi tersebut selalu hadir, dalam kadar yang sedikit, banyak, sederhana maupun kompleks. Dalam hubungan, pengorbanan dapat dilihat sebagai spektrum, artinya tidak dapat dilihat sebagai hal yang ada atau tidak, melainkan seberapa banyak yang muncul.

Hal paling menyakitkan dan menjengkelkan dari pengorbanan adalah sifatnya yang subjektif dan sulit dikuantifikasikan. Misalnya, ketika Anda sengaja pulang sedikit lebih awal–meninggalkan kerjaan di kantor–untuk bertemu dengan pasangan di hari ulang tahun jadian. Mungkin bagi Anda hal tersebut adalah pengorbanan yang cukup besar, mengingat besok pagi harus berangkat lebih awal untuk mengerjakannya dan mengambil resiko ditegur. Namun, bagi pasangan mungkin hal tersebut lumrah dilakukan–bukan pengorbanan sama sekali karena ia juga melakukan hal yang sama atau sudah seharusnya kencan anniversary lebih penting.

Di sini, kita bisa melihat setidaknya 3 hal yang krusial dalam melakukan pengorbanan dalam hubungan: adanya usaha lebih untuk melakukan hal yang tidak biasa dilakukan, ada resiko yang diambil, kebutuhan untuk diakui bahwa pengorbanan tersebut ada.

Mengapa Kita Melakukannya?

pengorbanan
Sumber: FeedAgreed

Jawaban sederhananya adalah kita melakukan pengorbanan dalam hubungan atas dasar bahwa orang tersebut merupakan orang yang kita sayangi, dan penting untuk kita. Namun bila dilihat lebih dalam lagi, pengorbanan dilakukan karena banyak faktor, beberapa diantaranya misalnya:

  • Tanggung jawab

Kita melakukan pengorbanan atas dasar tanggung jawab. Mungkin karena ekspektasi pasangan, tuntutan orang luar, atau karena perasaan bersalah, semua bisa jadi dorongan untuk melakukan pengorbanan. Misalnya, sudah berkali-kali janji untuk jalan-jalan ke museum MACAN tapi tidak jadi, akhirnya salah satu hari kerja mungkin terkorbankan untuk mengajaknya pergi. Mungkin sedari kecil kita sudah diajarkan bahwa ketika menjadi suami atau istri kelak perlu mengutamakan keluarga dan melakukan pengorbanan untuk menjaga hubungan dan harmoni. Beberapa kultur di Indonesia seperti Makassar dan Jawa memiliki ajaran ini dalam budayanya.

  • Self-Image

Salah satu dorongan kita untuk melakukan pengorbanan adalah demi tampilan diri yang lebih baik. Dorongan ini cukup gamblang. Melakukan pengorbanan demi pasangan atau orang yang disayangi membuat kita tampil lebih baik di hadapan orang tersebut. Suami yang pengertian, anak yang lebih berbakti, atau pacar yang lebih romantis. Label-label tersebut juga membuat kita merasa lebih baik terhadap kita sendiri.

  • Timbang menimbang (anchoring)

Mungkin terdengarnya kalkulatif dan egois, tapi seringkali timbang menimbang merupakan dorongan utama kita melakukan pengorbanan. Menurut Profesor Aaron Ben-Zeev dari Universitas Haifa, pengorbanan romantis merupakan tindakan kita ketika melepaskan sesuatu yang bernilai untuk mempertahankan atau mendapatkan hal yang lebih bernilai lagi.

Sebelum kita memutuskan untuk mengorbankan mimpi menjadi artis semasa remaja misalnya. Kita mungkin menimbang-nimbang bahwa kuliah bisnis atau pertambangan bisa berkesempatan mendatangkan uang lebih tinggi ketimbang masuk sekolah musik/kursus vokal. Begitu juga dengan seseorang yang akhirnya memutuskan untuk kembali ke mantan pacar yang pernah selingkuh, mengorbankan kebahagiaan dan harga dirinya karena tidak kunjung memiliki pasangan setelah berbulan-bulan putus. Bersama dengan orang yang selingkuh mungkin tidak seburuk kesepian di malam minggu.

Hal ini membuat pengorbanan semakin tricky karena bergantung pada seberapa cermat dan seberapa banyak sumber daya yang ada ketika kita melakukan timbang-menimbang. Karena kembali lagi, nilai dari sesuatu yang ingin kita capai dapat berubah seiring waktu, juga dapat berubah tergantung dengan pandangan dan kerangka pikiran kita. Mungkin sekarang kita berharap dengan membuat sedikit pengorbanan, pasangan kita akan membuat pengorbanan yang sama atau lebih besar. Namun, hal itu belum tentu akan terjadi.

Mengenali Batasan Berkorban

pengorbanan
Sumber: Myaliat

Kuncinya adalah tahu dan kenal batasan kita berkorban. Sejauh apakah batasan tersebut bisa ditentukan oleh dua hal, yaitu logika dan ketahanan fisik-emosional. Salah satu saran dari saya adalah selalu memprioritaskan kesejahteraan fisik dan mental diri sendiri. Apabila melakukan pengorbanan memakan waktu kerja terlalu banyak atau kamu sudah sangat tidak nyaman untuk melakukannya, maka berhentilah melakukannya.

Romansa tidak boleh mengalahkan logika. Romeo dan Juliet hanya terdapat dalam dongeng saja. Mengorbankan diri untuk ‘cinta’ seperti melakukan penyiksaan fisik, meninggalkan pekerjaan satu-satunya, atau menjauhkan diri dari keluarga pada umumnya sangatlah menentang logika hidup. Aturannya sederhana, apabila kamu tidak ingin melihat teman dekat atau keluarga melakukan pengorbanan yang serupa, kemungkinan besar hal tersebut juga sangat tidak baik untukmu.

Menyadari Ketika Orang Lain Berkorban

via GIPHY

Satu hal yang menarik dari pengorbanan adalah dibutuhkan persepsi dan pengakuan dari orang lain. Bila kita tidak mendapatkan pengakuan terhadap sesuatu yang kita korbankan untuk seseorang, maka pengorbanan bisa terasa sia-sia, dan bahkan dapat memunculkan perdebatan hebat.

Namun, hal yang menarik justru terjadi ketika kita tidak memberi tahu seberapa besar pengorbanan yang kita lakukan. Sebuah studi terhadap 80 pasangan yang dilakukan di Universitas Toronto menunjukkan bahwa tindakan untuk menyimpan pengorbanan bisa berakibat buruk: pasangan akan melihat kita sebagai individu yang kurang otentik, tidak jujur. Alhasil, kepercayaan bisa goyah!

Jadi, pikirkan sekali lagi ketika kamu mau bilang “nggak apa-apa” ketika ditanya bagaimana kerjaan yang ditinggalkan sebelum kencan. Mungkin lebih baik langsung beritahu resiko sekaligus solusi yang kamu miliki untuk potensi masalah agar pasangan lebih tenang dan kurang merasa bersalah.


Pada akhirnya, pengorbanan itu baik untuk dilakukan. Menunjukkan pengorbanan membuat pasangan merasakan kasih sayang dan dirinya lebih penting, sehingga bermanfaat untuk suasana hubungan secara keseluruhan. Namun, ingatlah beberapa hal sebelum melakukannya: pastikan persepsi pengorbanan kamu dan pasangan sama, kemudian jaga batasan untuk berkorban, dan jangan lupa komunikasikan dengan pasangan, ya!

Sumber:
Ben-Zeev, A. (2010, September 20). Does Love Involve Sacrifice or Compromise? Retrieved from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/in-the-name-love/201009/does-love-involve-sacrifice-or-compromise

Impett, E. A., Le, B. M., Kogan, A., Oveis, C., & Keltner, D. (2014). When you think your partner is holding back: The costs of perceived partner suppression during relationship sacrifice. Social Psychological and Personality Science, 5(5), 542-549.

Share the article

About Dessy Ilsanty

Psikolog Klinis praktek di Jakarta

Leave a Comment