perilaku toksik

Kenali 4 Perilaku Toksik Ini dalam Hubungan Romantis Kamu!

Buat kamu yang pernah atau sedang dalam hubungan, pasti pernah merasa jengkel dengan pasangan sendiri. Bisa saja karena sifatnya atau perilaku yang kamu tidak suka. Misalnya, saya punya teman yang selalu komplain soal pasangannya yang jarang mandi dan membiarkan piring menumpuk. Ada juga yang suka omong kotor, sering terlambat kalau kencan, tidak sopan dengan pelayan, dan suka main hape di bioskop!

Tapi sayangnya, flaw atau ketidaksempurnaan seperti itu terlalu kecil untuk dijadikan alasan putus! Pada akhirnya, setelah beberapa tahun, beberapa diantara mereka putus atau diputuskan. Mengapa? Apa karena perilaku-perilaku menjengkelkan tersebut? Well, secara garis besar iya, tapi kenyataannya lebih kompleks. Hampir setiap saat mereka putus adalah karena 4 perilaku toksik ini.

Apa saja?

Ego yang mendominasi

perilaku toksik
Sumber: Baby Couture

Ah, yang paling klasik. Bisa terjadi pada pria maupun wanita. Tapi kebanyakan pria sih. Pernah ketemu dengan orang yang sangat idealistik, tapi dirinya belum sempurna? Ia punya seperangkat aturan dan prinsip hidup yang ia tekuni, dan orang yang tidak mengikutinya atau tidak tepat mengikutinya, dianggap tidak benar dan butuh ‘pembenahan’.

Hanya karena ia memiliki alasan untuk melakukan sesuatu, ia menganggap dirinya benar. Ciri khasnya adalah suka menganggap pasangan seperti anak kecil yang tidak mengerti dan menceramahi ketimbang berkomunikasi. Ia juga tidak bisa berdiskusi. Lebih cenderung berdebat. Berdebat dengan suara yang lebih tinggi dan memberi rasa takut/otoritas. Misalnya, kedapetan piring yang belum dicuci, bisa langsung marah besar dan berceramah panjang lebar, merembet ke berbagai hal.

“Kalau piring saja tidak kamu jaga kebersihannya, bagaimana dengan rumah tangga kita”

Tidak mau mengakui kesalahan

perilaku toksik
Sumber: Pop Sugar Australia

Seringkali orang yang sama (merasa dirinya lebih baik), juga memiliki perilaku menghindar ketika dikonfrontasi. Namanya juga manusia, pasti punya kesalahan. Tanpa terkecuali dirinya. Nah, ketika dinasehati atau ditanya, biasanya ia tidak ingin mengaku salah. Perfectly reasonable bagi dirinya untuk melakukan hal tersebut, walau salah.

Padahal, seringkali orang di sekitarnya hanya peduli dan khawatir, atau bahkan hanya mengutarakan pendapat. Tapi seringkali dianggap sebagai ‘serangan’ dan berusaha melindungi diri. Malahan, seringkali orang lain yang balik disalahkan. Misalnya, kalau ia telat datang ke kencan.

“Kok kamu baru nyampe, sayang?”

“Memangnya kenapa? Kan macet, aku sibuk, dan sedang banyak kerjaan. Kenapa kamu hal kecil saja tidak mau dilepaskan? Mengerti sedikit saja kenapa? Maklum dong!”

Guilt Tripping

perilaku toksik
Sumber: Digital Trends

Pasti sering mendengar soal ini. Kalau belum, kamu pasti pernah merasakannya setidaknya sekali-dua kali. Guilt tripping terjadi terkadang tidak disengaja, namun menyakitkan. Ini adalah ketika pasanganmu membuatmu merasa sedih dan bersalah atas tindakan yang kamu lakukan. Bahkan ketika tindakan tersebut adalah demi kebaikannya atau kebaikan kalian.

Misalnya kamu sedang lembur dan mengerjakan proyek penting. Ia mungkin akan mengatakan kalau kamu lebih mementingkan pekerjaan darinya, atau bahkan tidak sayang lagi dengannya karena yang ada dalam pikiran hanya perkerjaan.

Atau ketika bertengkar, mungkin dia akan bilang seberapa besar pengorbanan dia untuk hubungan ini, dan kecilnya kontribusimu. Ia tidak diapresiasi olehmu, namun tetap sayang padamu. Emosi yang dibawa akan membuat ia seolah-olah benar, namun ketika dipikirkan baik-baik, tidak sepenuhnya benar. Tidak masalah melakukan curhat. Tapi curhat seperti ini harus dilakukan baik-baik dan dikomunikasikan. Kalau misalnya kalimatnya seperti di bawah ini, kan tujuannya jelas untuk bikin kamu merasa bersalah:

“Selalu aku yang ingatin kamu ini itu. Bawain kamu makanan, chat duluan, dan samperin kalau lembur. Itu bentuk sayang aku padamu. Mana kontribusimu yang tahunya cuma kerja melulu?”

Ancam, ancam, ancam

perilaku toksik
Sumber: NotAllowedTo

Ini personally yang bikin paling nggak tahan buat saya. Tipe pasangan yang suka mengancam. Suka membuat kita memilih hal yang susah dan mengapit kita dalam dilema moral dan bahkan finansial. Contoh paling gampangnya deh: Tipe yang suka minta pilih antara keluarga/teman/kerja dan dirinya. Tidak jarang dengan sedikit bumbu guilt tripping juga. Misalnya, meminta kamu memilih antara dua tempat makan yang berbeda, satu yang lebih kamu ingin coba, satu lagi favoritnya (tapi mungkin kamu sudah bosan atau tidak bisa makan makanan di sana). Bilangnya “kalau kamu pilih (tempat yang ia sukai), aku bakal lebih senang sih”.

Kebaca nggak, subtext-nya? Artinya kamu bakal membuat ia tidak senang dan tidak peduli kalau kamu tidak nurut. Ia mengancam secara tidak langsung agar jangan membuat keputusan yang tidak baik bagi kalian berdua. Pribadi, saya pernah melihat cowok maupun cewek melakukannya. Yang paling esktrem, namun sering nggak jadi:

“Kalau kamu terus melakukan (sesuatu yang minor, tapi tidak ia sukai), kita putus!”


Menyadari hal-hal ini tentu bermanfaat buat kamu. Tidak hanya perilaku perilaku toksik ini menyakitkan, tapi juga memeras energi dan merusak mental kamu! Apabila terlalu sering dilakukan, ada baiknya beristirahat atau mengakhiri hubungan.

Oh ya, teman saya yang punya pasangan jorok dan tidak suka beres-beres itu akhirnya yang diputusin. Mengapa? Karena ia tidak melakukan apapun untuk membantu pasangannya memiliki kebiasaan baru agar bersih, tapi malah selalu mengancam putus!

Memang jorok itu tidak baik sih. Tapi begitu juga dengan selalu menekan orang dengan ancaman. Pada akhirnya, karena tidak dibicarakan dengan baik-baik, frustrasi masing-masing, putusnya jelek banget (masih marah-marah hingga kini)!

Share the article
error

Leave a Comment