depresi post partum

Memahami dan Menangani Depresi Post Partum Ibu Oleh Keluarga

Pekan lalu saya diundang berbicara tentang salah satu topik kesehatan mental oleh tim Hijup yang sering melakukan meetup Women’s Day Out, memperingati bulan kesehatan mental. Topik yang dibawakan cukup spesifik, dan dekat dengan saya. Topik tersebut adalah depresi pasca melahirkan atau depresi post partum. Hampir semua yang hadir adalah seorang bunda, dan berbicara bersama saya adalah Kak Raden Prisha yang merupakan seorang survivor depresi post-partum.

Apa yang saya bagi ke bunda-bunda pekan lalu, akan saya bagikan juga ke teman-teman dalam tulisan ini.

Sebelum memulai, siapa pun yang membaca ini, coba tanyakan pada diri sendiri. Apa makna memiliki anak/bayi bagi kalian?

Memiliki bayi: senang atau sedih?

depresi post partum
Sumber: Huffington Post

Ketika pertanyaan tersebut saya lemparkan ke hadirin, jawabannya kira-kira seperti ini: “deg-degan”, “luar biasa”, “mengharukan” dan “tanggungjawab”. Benar, punya bayi ada senang dan sedihnya. Punya anak dan keturunan tentu menyenangkan bagi banyak orang. Anak adalah darah daging, anugerah, dan bagian dari kita. Tapi, memiliki bayi adalah tanggungjawab yang sangat sangat besar, terutama untuk seorang ibu. Kelak akan menjadi manusia seperti apa, sangat tergantung dengan kita.

Terutama membesarkannya, sangat erat kaitannya dengan roller coaster emosional. Sebagai seorang ibu, kita bisa mengambil 1001 nasehat dari ibu lain atau keluarga sendiri tapi masih belum tentu siap untuk mengasuh seorang anak.

Dari hati mungkin sudah siap, tapi tubuh belum tentu. Tidak jarang akhirnya, pada minggu pertama dan kedua, banyak ibu baru yang mengalami baby blues. Tenang, normal kok untuk mengalaminya.

Baby blues terjadi karena tubuh ibu pasca-melahirkan sangat lelah. Ia belum bisa menyesuaikan diri dengan kondisi bayi yang baru lahir, perubahan hormon, pola makan, pola tidur, dan banyak hal lainnya. Tapi jangan takut, ini normal kok. Biasanya paling lama pada minggu kelima dan keenam sudah terbiasa dan akan lebih sehat.
Tapi, tidak semua ibu beruntung. Pada sebagian ibu-ibu baru, ada kemungkinan terjadinya depresi post-partum (depresi pasca terpisahnya ibu dan anak secara biologis)

Mengenal Depresi Post-Partum: Ciri dan Stigma

depresi post partum
Sumber: All That’s Mom

Depresi post-partum merupakan gangguan depresi yang dialami ibu pasca melahirkan. Umumnya terkait dengan relasi ibu dan anaknya. Gejalanya biasanya lebih parah dan lama dibandingkan dengan baby blues. Salah satu pemicunya (trigger) adalah tubuh yang belum bisa beradaptasi dengan bayi yang baru lahir. Bayangkan, tubuh yang capek melahirkan tidak bisa istirahat dengan tenang, karena suara tangisan bayi yang suka tiba-tiba datang, serta jiwa yang tidak bisa tenang karena banyaknya kebutuhan bayi yang harus selalu dijaga.

Ketika si kecil tiba di dunia, ibu cenderung merasa senang dan lega. Namun, untuk ibu yang mengalami depresi, mungkin kekhawatiran dan ketakutannya lebih besar. Dari dalam, ia mungkin belum percaya diri bisa menjadi ibu yang baik, terutama di masa-masa bayi sedang banyak perlunya.

Dari luar, tekanan juga berdatangan. Tidak jarang orang sekitar akan memberikan judgement terhadap setiap tindakan kita. Misalnya, menilai buruk ketika si kecil diberi susu formula, atau suka membanding-bandingkan.

“Dulu saya melahirkan nggak selemah kamu, kok”

“Anak saya sudah bisa berbicara di usia sekian, kok punyamu belum”

Hal-hal seperti ini merupakan stigma yang dirasakan, menyerang kepercayaan diri dan self esteem seorang ibu. Banyak ibu yang akhirnya takut tidak bisa menjalankan tugas atau takut mengecewakannya. Kombinasi faktor luar dan dalam ini bisa memicu muncul dan parahnya depresi.

Gejalanya bisa berupa sulitnya megontrol emosi, bisa tiba-tiba nangis, susah tidur, susah makan, mudah tersentuh dan terpicu untuk emosional bahkan oleh stimulus-stimulus paling kecil pun. Adanya rasa ingin jauh dari bayi, menyendiri, tidak semangat, tubuh sulit diajak kerjasama (walau ada keinginan) dan bahkan ingin hilang saja.

Ditambah dengan dukungan keluarga yang buruk, depresi bisa semakin parah. Tidak hanya mengganggu sang ibu, tapi juga akan berdampak pada hubungan dengan anak dan keluarga. Oleh karena itu, tidak hanya ketika hamil, justru peran keluarga, terutama suami sangat krusial terutama pada bulan dan tahun pertama bayi lahir.

Menghadapi Depresi Post-Partum Bersama

depresi post partum
Ibu yang memiliki hubungan yang harmonis dan kokoh dengan pasangan cenderung memiliki potensi lebih rendah terkena depresi. Walau sudah menjadi tanggungjawab ibu untuk kuat dan tetap siaga untuk kebutuhan si kecil, nyatanya kapasitas setiap orang berbeda-beda, dan setiap bantuan dibutuhkan.

Untuk suami, jangan terbawa peran normatif patriarki bahwa bukan tugas ayah untuk mengasuh anak. Justru, ayah di sini bisa menjadi penjembatan bonding antara ibu dan si kecil. Misalnya, dengan mengajak ibu dan anak jalan-jalan menghirup udara segar agar tidak pengap di dalam rumah. Anak akan jadi lebih familiar dengan ibunya dalam segala situasi.

Jangan pernah membiarkan emosi dan semangat istri down. Ketika ia merasa tidak bisa melakukan atau takut mengecewakan, dengarkan dan yakinkanlah kalau ia adalah seorang ibu yang kuat dan baik. Ingatkan kembali pada alasan awal memiliki anak, dan perjuangan selama 9 bulan.

Tidak kalah membantu juga yaitu memberikan waktu istirahat bagi sang ibu. Misalnya, dengan menawarkan untuk melakukan pekerjaan rumah. Pasalnya, tidak hanya si kecil, urusan rumah tangga juga selalu melanda pikiran ibu. Atau sang ayah bisa membawa si kecil jalan-jalan dan membiarkan ibu rileks di rumah, sambil pijat, tidur siang, atau nonton film.

Buat ibu, terkadang apabila nafsu makan dan semangat tidak ada, paksaan bisa membantu. Terkadang butuh makan tapi kondisi depresi yang menolaknya. Namun, dengan sedikit memaksa, setidaknya ada energi sedikit yang masuk. Ingat, makan tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga agar kuat menjaga si kecil.

Ibu juga jangan segan meminta bantuan ayah. Menjaga anak adalah kerjasama antara 2 orang! Jadi bisa seperti estafet. Ketika giliran ayah, ibu bisa cepat tidur untuk memulihkan energi atau melakukan hal lain. Coba atur jadwal dan sinergi. Nggak akan mudah, tapi pasti bisa! Yang penting, fokus dan prioritaskan si kecil. Urusan lain jangan terlalu dipikirkan dulu (rumah yang belum beres atau belum masak misalnya).


Sebelum menutup, ingat kalau hubungan ayah dan ibu juga penting. Apabila ada asisten rumah tangga atau pengasuh bantuan, manfaatkanlah waktu itu untuk kembali mendekatkan diri masing-masing. Ada si kecil pun tidak apa-apa, tapi yang penting adalah jangan berhenti berbagi, suka maupun duka. Apabila butuh bantuan, selalu ada Psikolog yang siap membantu kok! Jadi tidak perlu khawatir ya!

depresi post partum
Dan jangan lupa, sesungguhnya, bagi kita yang punya pengetahuan soal ini memang bisa membuat perubahan besar. Tapi, pahlawan sebenarnya justru adalah ibu-ibu yang bisa survive depresi post-partum ini. Tentu, kalau ibu Batman-nya, Ayah adalah Robin-nya!

Share the article

Leave a Comment