Dessy Ilsanty, M.Psi

Meminta Ma’aflah Dengan Tulus

Read on WomanTalk

WomanTalk

 

Manusia tentu tidak pernah luput dari berbuat kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna kan? Dari kesalahan yang telah diperbuat seseorang tersebut, bisa memberikan dampak negatif hanya kepada diri sendiri atau bisa juga memberikan dampak negatif kepada orang lain. Bisa kesalahan dalam perbuatan, atau bisa juga kesalahan dalam berucap. Nah, jika melibatkan orang lain, bisa jadi kesalahan yang kita perbuat tersebut membuat orang lain merasa sedih, kecewa atau marah. Ketika kita berbuat salah terhadap orang lain, sudah sepatutnya kita meminta maaf.

Sumber: Giphy

Terkadang, mengucapkan kata maaf bukan hal yang mudah untuk dilakukan, namun perlu diucapkan. Bagi pihak yang mendengarkan kata maaf juga belum tentu langsung menerima dan benar-benar memaafkan dan melupakan. Ternyata, meminta dan mengucapkan kata maaf, ada kiatnya agar efektif, juga yang dimintai maaf merasa dihargai dan melihat bahwa kita sungguh-sungguh menyesal.

Seorang profesor dari The Ohio State University, Roy J. Lewicki, bersama beberapa rekannya, melakukan sebuah studi yang melibatkan 755 orang, untuk melihat bagaimana mereka bereaksi terhadap spektrum permintaan maaf. Dari studi tersebut, mereka menyimpulkan adanya 6 elemen dari permintaan maaf yang efektif, yaitu:

1. Ekspresi penyesalan (expression of regret)
2. Penjelasan atas apa yang salah (explanation of what went wrong)
3. Pengakuan akan tanggung jawab (acknowledgment of responsibility)
4. Pernyataan akan penyesalan (declaration of repentance)
5. Menawarkan untuk memperbaiki (offer to repair)
6. Permintaan akan pengampunan (request to forgiveness)

Para peneliti tersebut menyimpulkan bahwa walaupun permintaan maaf yang mengandung keenam elemen diatas adalah yang terbaik, namun tidak semua elemen ini memiliki bobot yang sama. Lewicki mengatakan bahwa hasil temuan mereka menyebutkan bahwa elemen yang paling penting adalah elemen nomor 3, yaitu adanya pengakuan akan tanggung jawab. Mengatakan bahwa, “Ini adalah kesalahan saya, saya telah membuat kesalahan”.

Selanjutnya Lewicki juga mengatakan bahwa elemen yang kedua terpenting adalah elemen nomor 5, yaitu menawarkan untuk memperbaiki. Sekedar mengucapkan kata maaf adalah hal yang tidak sulit. Tapi dengan mengatakan “saya akan memperbaiki kesalahannya”, bisa memberikan arti adanya komitmen untuk mengambil tindakan nyata dalam memperbaiki kerusakan. Lewicki juga menekankan bahwa terlihatnya ketulusan dan emosi yang terpancar dari suara yang mengucapkan maaf dapat memiliki dampak yang kuat terhadap efektivitas dari sebuah permintaan maaf. Diperjelas juga bahwa kontak mata dan ekspresi yang tepat juga penting ketika melakukan permintaan maaf secara langsung.

Di zaman yang serba digital saat ini, tidak jarang kita justru berkomunikasi melalui cara yang virtual. Mungkin karena alasan efisiensi atau mungkin karena alasan waktu yang tidak tepat dan terbatas. Namun apapun alasannya, sebaiknya kita tetap menyadari bahwa ketika hendak mengucapkan permintaan maaf, sebaiknya dilakukan secara langsung.