stres

Macet Pergi Pulang Kantor Bikin Stres, Kerjaan Banyak Bikin Stres. Bagaimana cara mengatasinya?

Masih seputar kesehatan mental di bulan ini, loyal readers! Kali ini, topik kita adalah stres! Setiap orang pasti memilikinya, tapi tidak semua orang tahu cara menanganinya, atau bahkan memahaminya! Sehingga, nggak jarang akhirnya malah kesal, bete, dan capek sendiri.

Nah, dalam artikel ini, saya ingin mengajak teman-teman pembaca untuk tahu lebih banyak soal stres dari sisi Psikologinya. Kita akan membahas tipe stres, akibat-akibat dari stres, manfaatnya (ya, benar bahwa stres punya manfaatnya!), dan cara menanggulanginya. Beberapa saat lalu, saya baru membahas ini di acara Go-Jek soal stress bersama VP of Marketing Transportnya, Bu Monica. Tampaknya, #UdahWaktunya saya share juga ke teman-teman.

Penasaran? Yuk, simak!

Apa itu stres?

stres
Sumber: 1health

Sederhananya, stres merupakan tekanan ke fisik atau batin untuk bereaksi. Ketika mengangkat beban atau berjalan, otot tangan dan kaki bisa merasakan stres yang kadarnya tergantung seberapa berat barang yang diangkat dan jarak yang ditempuh. Bekerja dan belajar pun begitu. Otak dan batin akan merasakan tekanan ketika kita dituntut untuk mencapai suatu target. Namun, tentu saja kisaran stres yang dirasakan tergantung dengan jumlah kerjaan yang kamu miliki.

Sampai di sini, mungkin sudah tahu ya arah pembicaraannya? Benar kalau dibilang stres itu bisa dibedakan dengan dua tipe. Stres yang baik (eustres) dan yang buruk (distres). Kalau orang Indonesia, bicara stres pasti konotasinya buruk. Sehingga nggak jarang kalau solusinya langsung nyantai. Tapi habis nyantai, kadang malah mager mau balik kerja! Malah jadi nggak produktif. Terus gimana enaknya?

Fungsi, manfaat, dan akibat dari stres sebenarnya

stres
Sumber: World of Buzz

Jangan salah, tubuh dan batin perlu stres dalam jumlah tertentu untuk tetap bekerja secara optimal. Stres dalam jumlah yang kecil biasanya bisa membantu orang fokus, produktif, dan semangat dalam melakukan aktivitas! Ini yang dinamakan stres baik.

Bayangkan kalau nggak ada stres, artinya nggak ada yang mendorong kamu untuk melakukan sesuatu. Pasti jadinya nggak peduli dan susah bergerak. Ini terjadi ketika kamu sehabis nyantai, liburan atau habis pijat misalnya. Justru, rasa ingin mencapai goal dan deadline justru merupakan stres yang kamu butuhkan untuk memulai aktivitasmu.

Tapi, problem muncul kalau stresnya terus bertambah tanpa henti. Bisa jadi karena kerjaan monoton yang tidak ada habisnya, tidak bisa meregulasi diri, atau terperangkap dalam ketidakberdayaan hidup, seperti macet! Stres yang awalnya meningkatkan produktivitas, pada titik tertentu malah sebaliknya. Akibatnya, tubuh dan batin sama-sama terpengaruh!

Bila terlalu capek berjalan atau mengangkat barang, tidak hanya otot yang sakit, tapi hati juga panas dan otak mumet, bukan? Begitu juga apabila kamu duduk seharian membalas email atau mengerjakan soal latihan ujian. Walau nggak bergerak, batin dan otak yang stres bisa menyebabkan tubuh gatal, panas, lelah, dan geram!

Sumber stres

stres
Sumber: Folio

Kalau stres yang berlebihan terjadi, maka kamu perlu tahu dua hal. Sumbernya, dan cara menanggulanginya! Dari mana sumber stres? Ada dua, stres bisa berasal dari luar, bisa berasal dari dalam diri!

Terkadang, kalau mau dibilang kerjaan dan pelajaran bisa membuat stres, tidak juga. Soalnya, kamu masih bisa enjoy melakukannya. Terkadang karena ada teman, ada snack, atau ada kebanggan dari KPI dan nilai ujian yang bagus! Walau nggak terpungkiri kalau deadline sudah dekat atau bos suka marah-marah bisa bikin stres berlebih.

Namun, menjadi tugasmu untuk tetap mempertahankan level stresmu. Ketahui batasan, dan istirahat ketika diperlukan. Tapi, jangan justru kelamaan istirahatnya, nanti terlampau santai, makin sulit fokus dan semangat lagi bekerja. Dalam kesehariannya, kamu butuh praktek dan latihan terus menerus.

Tapi, yang paling berbahaya bagi masyarakat Indonesia adalah, stres itu ada di mana-mana. Sekarang, mau kota besar maupun kecil, banyak sekali yang namanya macet. Bayangkan, sudah stres seharian kuliah dan kerja, mau pulang saja harus nunggu berjam-jam tanpa daya, terkadang menghirup asap, atau mendengar bunyi berisik. Tahukah kamu, kalau ternyata setahun waktu seseorang dalam usia kerja produktif terbuang 150 jam hanya karena macet, atau 6 hari dan 6 jam!

Dalam keadaan lepek, kita yang tidak bisa tiba di tempat yang kita inginkan, kita yang waktunya terbuang, kita yang harus fokus dengan jalanan, tentu akan merasakan stres yang berlebih. Ini dinamakan stress akut, karena cukup berbahaya bagi tubuh, namun hanya relatif sebentar dirasakan (ketika berada di jalanan saja). Road rage atau amarah lalu lintas kemudian bisa terjadi. Driver saling klakson, bikin semua tambah ribut, tambah stres. Ini sangat tidak baik untuk kesehatan mental kita.

Jangan khawatir, stres merupakan stimulus, artinya bagaimana kita bereaksi terhadapnya bisa dikontrol. Itulah sebabnya ada yang masih bisa sabar walau macet dan capek berlebih. Mereka adalah orang yang bisa mengontrol persepsi dan reaksi terhadap stresnya.

Macet memang nggak bisa hilang langsung. Tapi, kamu bisa (selain maklum) melakukan banyak hal untuk menenangkan dirimu secara fisik dan batin. Misalnya, kamu bisa mengecilkan persepsi terhadap waktu yang berjalan. Stres dari kemacetan biasanya hadir karena persepsi waktu yang dilalui lama banget, sehingga tubuh dan batin merasa diam dan terperangkap. Distraksi seperti mendengarkan radio, musik, atau ngobrol dengan teman bisa mengecilkan persepsi waktu yang berjalan, sehingga tidak terasa kamu sudah menghabiskan waktu yang lama. Jiwa dan raga pun bisa lebih tenang dan senang.

stres

Atau, kamu bisa pesan ojek online, biar sampai lebih cepat. Nggak bisa langsung sampai, tapi bisa menghemat sekitar 45% dari waktu perjalanan, setidaknya. Intinya, apapun yang bisa menutupi kesenjangan antara tuntutan tubuh yang seharusnya sudah sampai, namun realitanya masih terjebak helpless di keramaian.


Ingat, udah capek kerja, kamu tidak pantas lagi mendapatkan stres di luar kantor atau kelas. Jangan biarkan dirimu termakan oleh efek samping stres, seperti amarah, tantrum, dan kekesalan berlebih. Selalu ada solusinya kok. #UdahWaktunya kita lebih cermat menghadapi stres!

Kalau punya pertanyaan lain soal stres, teman-teman bisa langsung hubungi saya atau follow Instagram saya di @dessyilsanty!

Share the article

Leave a Comment