Makna Kebebasan

Makna Kebebasan: Sederhana, Kompleks, dan Unik

Zaman sekarang, Hari Kemerdekaan lebih identik dengan Hari Ulang Tahun dibandingkan memperingati kemerdekaan Indonesia, dan perayaannya identik dengan hari libur dibandingkan kebebasan kita sebagai bangsa. Apakah benar makna kebebasan sekarang sudah berubah? Apakah kita telah bebas? Apakah kamu sudah bebas?

Dalam rangka peringatan 17-an ini, kita akan membahas tentang makna kebebasan bagi individu. Mulai dari bagaimana kamu memaknai kebebasanmu hingga cara untuk bisa mengapresiasi kebebasan tersebut lebih mendalam lagi di hari yang megah ini. Yuk, cari tahu!

Apakah “Makna Kebebasan” Itu?

Makna Kebebasan
Sumber: Huffington Post

Kebebasan merupakan hal yang kompleks, bahkan filosofis. Walau konsepnya objektif, namun cenderung diperdebatkan lintas-disiplin ilmu, agama, politik, dan bahkan antar-pasangan.

Bagi seorang profesor Psikolog yang mendalami teori perilaku klasik dan evolusioner misalnya, ia mungkin akan berpendapat bahwa segala perilaku manusia ditentukan oleh gen dan proses hard-wiring atau latihan keras yang lama. Pandangan ini dikenal dengan pandangan determinisme, artinya kita tidak memiliki kebebasan (free-will) sama sekali dalam melakukan apapun, melainkan dikontrol atau ditentukan (determined) oleh suatu faktor.

Ia mengambil contoh bahwa ketika kita pernah beberapa kali tersengat listrik sewaktu kecil, mungkin kedepannya kita akan mengembangkan perasaan yang tidak menyenangkan terhadap stop kontak atau colokan. Karena berdasarkan perspektif evolusi, otak kita akan mengingat informasi yang penting bagi ketahanan dan keberlangsungan hidup, dan dalam kasus ini adalah tidak mendekati sumber listrik.

Berbeda pula pendapat istrinya, yang merupakan pengamat politik. Ia berpendapat bahwa kebebasan tidak dapat dibatasi begitu saja. Apa yang bebas dan tidak adalah subjek ciptaan manusia. Sehingga penghambat dan pembatas yang seharusnya menjadi hak kita dapat ditentukan melalui diskusi dan diskursus. Ia mengambil contoh bahwa puluhan tahun lalu di Amerika Serikat, wanita tidak boleh memilih pemimpinnya. Namun, melalui pengajuan kebijakan, akhirnya wanita memiliki kebebasan untuk menyuarakan pilihan politik mereka.

Sederhananya, untuk menjadi bebas atau menemukan makna kebebasan milikmu sendiri, kamu perlu terlebih dahulu menyadari bahwa kebebasan dan maknanya cukup terbuka untuk ditafsir dan sangat tergantung pada situasi-kondisi. Kemudian, kamu juga perlu menerima bahwa tidak ada kebebasan yang benar-benar absolut, karena apabila tidak ada hambatan, maka kebebasan tersebut tidak bisa ada. Maka dari itu, logis apabila kita mulai mencari tahu, apa yang mengikat, menghambat, dan memperberat keputusan dan kehidupan kita, yang membuat kita tidak bebas.

Membedakan Individu yang ‘Bebas’ (dan Tidak)

Makna Kebebasan
Apakah ia benar-benar, ‘bebas’? Sumber: Society 19

Mari kita kenali terlebih dahulu ciri individu yang bebas dan tidak. Di sini, kita berbicara soal makna kebebasan yang paling sederhana. Semua pandangan dan logika kita soal kebebasan dimulai dari sini. Kebebasan yang sebenarnya tidak datang dari kemampuan untuk melakukan segala sesuatu secara bebas. Justru kebebasan yang sebenarnya datang bersama batasan.

Sederhananya, kamu dikatakan bebas apabila kamu tidak menggunakan kebebasanmu untuk melakukan hal yang merugikan diri dan orang lain. Artinya, kebebasan tersebut harus memiliki makna, bertujuan (fungsional), dan tujuannya pun baik!

Misalnya, si X adalah seorang pria yang sudah memiliki pasangan. Namun, ia merasa tidak bebas untuk memenuhi kebutuhan intimasi dengan pasangannya, karena tidak setiap kali ia membutuhkan pelukan (atau lebih), pasangannya bisa memenuhi.

Di sisi lain, ia memiliki uang dan akses terhadap dunia hiburan yang memberikannya kebebasan untuk mendekati wanita lain. Seketika, ia memang tampak bebas untuk memenuhi kebutuhan intimasinya. Namun bayangkan, dengan memanfaatkan kebebasan tersebut, ia menjadi harus lebih tertutup dengan pasangannya. Ia tidak bebas bercerita tentang apa yang dia lakukan semalam.

Profesor Jeremy Sherman dari UC Berkeley kemudian menyimpulkan: individual yang benar-benar bebas adalah individu yang memiliki opsi untuk memilih, bukan individu yang memiliki opsi untuk merugikan dan menyakiti. Tentu, di kehidupan asli, masih banyak lagi area abu-abu. Menjadi tanggungjawab kita kemudian untuk melihat lebih mendalam dan jauh, tentang apa yang membatasi.

Bagaimana Kamu Bisa Menjadi Lebih Bebas

Makna Kebebasan
Sumber: No Film School

Menjadi lebih bebas bagi individu itu sederhana. Terkadang banyak hambatan yang kita rasakan bersifat hipotetis, artinya hanya ada dalam benak dan masih berbentuk ‘andai’ atau ‘bagaimana jika’. Untuk menjadi lebih bebas, justru kita harus berhenti berpikir tentang kebebasan dan maknanya.

Instead, cobalah berpikir apa yang kamu asosiasikan dengan kebebasan. Apakah kebahagiaan? Kepuasan batin dan moral? Kesehatan?

Kemudian, barulah kenali constraint atau hambatan yang kamu hadapi untuk mencapai hal tersebut. Bila yang diinginkan adalah keluarga yang bahagia dan damai, maka hambatan yang ada mungkin terletak pada komunikasi dan keterbukaan. Kebebasan untuk mencapai hal tersebut kemudian terletak pada seberapa bebas komunikasi bisa dilakukan secara terbuka. Apabila itu yang diinginkan si X, maka mencari wanita hiburan justru mengekang kebebasannya.

Merasakan Makna Kebebasan yang Sesungguhnya

Makna Kebebasan
Sumber: William Spivey

Kebebasan identik dengan kelegaan. Pada zaman perjuangan kemerdekaan, kebebasan tidak dirasakan karena masih ada pihak opresif yang membuat kehidupan tidak tenang dan nyaman. Hal tersebut berubah ketika para pemuda mendesak Ir. Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia secepat mungkin, agar semakin lega. Dengan proklamasi tersebut, secara utuh Indonesia menyatakan dirinya berdiri tanpa pengaruh Jepang.

Walau tidak segera, hal ini memberi opsi untuk menentukan beberapa langkah kedepan nasib negeri dan semua warganya. Seketika kebebasan yang selama ini tidak hadir, langsung bisa dirasakan begitu saja.

Sadar bahwa kamu memiliki pilihan saja tidak cukup. Bagaimana kamu memilih dan mengambil keputusan itulah yang menentukan kamu bebas atau tidak. Terdapat perbedaan yang substansial antara “bisa berhenti kapan saja dari suatu pekerjaan” dengan bisa “berhenti kapan saja, namun tidak bisa bertahan hidup hingga 1-2 bulan kedepan”. Memiliki opsi belum tentu bisa dilaksanakan, terlebih lagi ketika opsi tersebut membuatmu tidak nyaman.


Jadi, merupakan tugas individu masing-masing untuk memastikan pilihan hidupnya senyaman mungkin bagi dirinya dan orang lain. Hanya ketika kita merasa lega, tenang akan suatu pilihan, maka ia bisa dikatakan bebas. Baik itu bebas untuk menentukan siapa yang memimpin atau memilih pasangan. Baik bebas mengakui dan menerima sifatnya merupakan bawaan lahir/biologis, atau mengubah sifat tersebut.

Yang terpenting adalah kita tidak melupakan bahwa kebebasan itu ada, dan mungkin. Sudah bebaskah kamu hari ini?

Sumber:

Lau, S., & Hiemisch, A. (2017). Functional Freedom: A Psychological Model of Freedom in Decision-Making. Behavioral Sciences, 7(3), 41.

Sherman, J. E. (2014, October 13). Freedom To Choose; Not Freedom To Confuse. Retrieved from: https://www.psychologytoday.com/us/blog/ambigamy/201410/freedom-choose-not-freedom-confuse

Share the article

About Dessy Ilsanty

Psikolog Klinis praktek di Jakarta

Leave a Comment