Dessy Ilsanty, M.Psi

Kata Pakar: Tugas Paling Sulit, Menyampaikan Berita Buruk!

Read on WomanTalk

WomanTalk

Salah satu hal yang termasuk paling sulit dalam kehidupan sosial, adalah ketika harus menyampaikan berita buruk kepada seseorang, khususnya kepada orang yang dekat. Biasanya kita mengkhawatirkan reaksi orang terhadap berita yang akan disampaikan dan bagaimana responnya terhadap sang pembawa berita (alias kita sendiri). Bisa jadi dia akan sedih, kecewa atau bahkan marah. Apakah sebaiknya dibarengi dengan berita baik, agar kemudian dapat  menghibur setelah mengalami emosi yang buruk. Cara penyampaian berita juga pasti memengaruhi penerimaan dan pemrosesan sang penerima.

Pertama, dimulai dengan mempersiapkan berita buruk yang akan disampaikan. Kemudian mari telaah, apakah ada berita lain yang sifatnya baik yang dapat disampaikan? Jika jawabannya ya, maka hal ini dapat membantu. Lanjutkan dengan pertanyaan; apakah berita buruk tersebut mengandung umpan balik yang bermanfaat dan bersifat jangka panjang bagi penerima berita? Jika ya, maka mulai percakapan dengan berita baik. Dalam sebuah studi di University of California, para penerima tes kepribadian tampak lebih dapat menerima (reseptif) berita yang negatif jika mereka menerima berita yang lebih menyenangkan terlebih dahulu. Khususnya jika berita buruk tersebut menuntut adanya tindakan, seperti review performa, dengan dibekali hal yang positif terlebih dahulu akan dapat membantu. “Berita baik terlebih dahulu, kemudian berita buruk, baru kemudian solusi konkret” demikian kutipan dari studi tersebut.

Jika pertanyaan kedua dijawab dengan tidak, berarti, sampaikan berita buruk terlebih dahulu. Dalam hal ini akan banyak melibatkan kecemasan. Jika tahu bahwa kita akan menerima berita yang tidak menyenangkan, biasanya ingin cepat melewatinya. Bila keadaannya, tidak ada yang bisa dilakukan oleh si penerima berita – seperti jadwal pesawat yang dibatalkan atau ada keluarga yang mengalami kecelakaan – tampaknya lebih baik bagi penerima berita jika kemudian diberikan hikmah dibalik berita buruk tersebut pada akhir percakapan.

Namun bagaimana jika akan menyampaikan berita buruk tetapi tidak ada berita baik lainnya yang dapat disampaikan secara bersamaan? Lanjutkan dengan pertanyaan, apakah berita ini buruk berdasarkan penilaian kita sendiri atau cenderung subyektif? Pertanyaan ini juga menjadi lanjutan setelah memberikan berita baik dan juga berita buruk, seperti langkah di atas. Kita perlu memahami apakah berita buruk yang akan disampaikan itu dari penilaian kita sendiri, atau memang faktanya berita buruk.

Jika pertanyaan terakhir dijawab dengan ya, dan alasannya pun tidak rumit, maka sebaiknya sampaikan berita buruk tersebut secara langsung, bertatap muka jika memungkinkan, atau melalui telepon. Jika ingin menunjukkan kepada penerima berita bahwa kita pun ikut merasakan apa yang dirasakan olehnya, hal yang paling baik adalah penyampaian secara langsung, baru setelah itu melalui telepon. Jika jawabannya ya, tetapi alasannya merupakan suatu hal yang rumit (complicated), coba dipikirkan lagi; apakah berita tersebut sangatlah serius atau hubungan kita dengan penerima berita penting? Jika ya, berarti beritanya sebaiknya sampaikan secara langsung. Tetapi jika beritanya tidak begitu serius atau hubungan kita dengan penerima berita juga tidak terlalu penting, maka bisa disampaikan melalui email atau surat. Awali surat dengan penjelasan. Hal ini akan lebih bermanfaat jika penjelasan melalui tertulis dapat lebih jelas dan mendalam dibandingkan melalui telepon.

Nah sekarang, jika beritanya setelah dipikirkan dalam-dalam ternyata tidak terlalu buruk, tidak serius atau penerima berita juga bukan orang yang terlalu penting bagi kita, penyampaian bisa dilakukan dengan email atau surat. Tetapi jika berita tidak terlalu buruk, tetapi beritanya mengandung hal yang serius atau hubungan kita dengan penerima berita juga penting, maka sebaiknya sampaikan secara langsung.