gangguan depresi

Panduan Singkat Gangguan Depresi Untuk Orang Awam

Belakangan di media apapun, dari televisi, koran, dan media sosial, ada banyak sekali topik gangguan mood dan dampaknya yang kita dengar beritanya. Saya pun pribadi sudah membahas topik ini sedikit-sedikit pada postingan sebelumnya. Apabila terdengar awam, mungkin gangguan mood dapat lebih mudah dimengerti apabila saya bilang gangguan depresi atau bipolar. Walau sebenarnya terdapat lebih banyak tipe lagi yang akan saya bahas kedepannya. Untuk kali ini, kita akan mulai dengan gangguan mood yang paling ramai dikenal: depresi.

Bukan, depresi bukan ‘gila’, jiwa bermasalah, sedih berlebihan, cari perhatian, kekanak-kanakan, apalagi ‘tidak bersyukur’. Berbeda dengan kondisi-kondisi tersebut, depresi tidak hanya berpotensi merusak hidup dan fungsi kita sebagai manusia, tapi juga mendorong pada kematian dan bunuh diri.

Tentu saja, konseling, mencari hiburan, mendapatkan perhatian, mencoba pola pikir baru, berdoa, dan merasa bersyukur bisa membantu mengurangi gejala depresi pada sebagian orang. Tapi, tidak berarti gangguan yang dialami disebabkan oleh hal-hal ini. Tidak sesederhana itu.

Di sini, saya ingin berbagi panduan singkat yang perlu diketahui orang awam soal gangguan mood depresi sebelum menilai buruk dan menstigma orang yang memilikinya. Mulai dari apa itu gangguan depresi, apa saja yang dialami orang yang memilikinya, serta dukungan dan treatment yang bisa kita bantu berikan.

Apa sih sebenarnya depresi itu?

gangguan depresi
Depresi adalah salah satu gangguan mood atau suasana hati, yang kemudian menyebabkan penekanan ekspresi suasana hati dan emosi yang keluar. Walau angka sebenarnya belum diketahui, sekitar 9 juta orang di Indonesia tercatat mengalami gangguan depresi, lho! Secara umum, gangguan depresi bisa terbagi menjadi berat atau major dan ringan atau mild. Dengan gangguan depresif mayor cenderung lebih lama dan sering terjadi ketimbang yang ringan.

Penyebabnya bisa bermacam-macam. Dari sisi genetik, misalnya. Apabila ada keluarga yang mengalami gangguan depresi, maka keturunannya juga bisa memiliki gangguan ini. Selain itu, tahukah kamu kalau emosi dan gejolak hati manusia disebabkan oleh gen yang teraktivasi dan ternon-aktivasi? Bagaimana aktivitas gen ini kemudian mempengaruhi cara kita berhadapan dengan situasi hidup. Gen yang aktif di waktu yang salah bisa memproduksi protein yang mengganggu suasana hati dan emosi. Para ahli percaya sistem ini punya hubungan erat dengan gangguan depresi.

Selain itu, tidak diragukan lagi tekanan dari luar seperti stres berlebihan, trauma, dan rasa takut yang berlebih terhadap sesuatu bisa menyebabkan mood kita terdepresi. Bagaimana kita menghadapi hal-hal yang berbahaya bagi emosi dan kesehatan mental ini kemudian juga menentukan kecenderungan terkena gangguan depresi.

Nah, depresi tergantung yang mengalami bisa berakibat beda-beda. Maka dari itu, setiap orang bisa mengalaminya dalam waktu dan episode–momen depresi tersebut sedang muncul–yang berbeda-beda.

Apa saja yang dialaminya?

gangguan depresi
Depresi secara umum memiliki imbas ke emosi dan fungsi keseharian kita, membuat sulit konsentrasi, banyak pikiran negatif, dan kehilangan semangat serta energi. Bagaimana pun juga, emosi dan ekspresinya tertekan. Sehingga berbagai sistem yang dipengaruhi atau didorong oleh emosi, seperti nafsu makan, pola istirahat, pola pikir, reaksi terhadap dunia luar–basically hampir semua fungsi kemanusiaan akan berubah atau bahkan rusak (impaired) dan terganggu.

Contohnya, seseorang yang tadinya sangat antusias dalam berolahraga bisa tidak memiliki semangat dan energi, padahal sudah makan dan istirahat yang cukup. Seseorang yang sehari-harinya tampak senang dan bekerja dengan biasa, bisa susah tidur dan selalu memikirkan faedah hidupnya, pikiran negatif tentang dirinya, serta ada perasaan mengganjal yang menekan dan susah disingkirkan. Ini hanya salah satu contoh ya. Kenyataannya depresi mempengaruhi orang dengan cara yang berbeda-beda.

Contoh tersebut bisa disebabkan pandangan dan reaksi yang berubah terhadap pekerjaannya, yang tadinya masih bisa ditangani, tiba-tiba menjadi berat karena sulit konsentrasi, merasa kewalahan, dan tidak punya energi untuk melakukannya.

Kita yang tidak memiliki gangguan depresi kemudian bisa dengan mudah menilai orang tersebut malas, tidak ingin bekerja, atau bahkan merasa ia tidak bisa bersyukur, padahal yang dikerjakannya tidak seberapa.

Tapi itulah depresi, bahayanya adalah ia bisa membesar-besarkan tantangan dan tekanan dari sekitar kita, sembari mengecilkan semangat dan dorongan untuk menyelesaikannya. Mudah capek, pusing dengan instruksi pekerjaan, dan pikiran suka melenceng ke mana-mana dan bikin mumet! Ini semua tidak selalu tampak dari luar, karena dengan tuntutan dan kekhawatiran tertentu, orang dengan gangguan depresi bisa menyamarkannya. Mereka masih bisa tersenyum dan mencoba terlihat antusias kok! Tapi itu tentu memakan energi yang cukup besar.

Apa bantuan yang bisa kita berikan?

gangguan depresi
Menurut kalian, readers, kira-kira bantuan apa yang paling berharga yang bisa kita sebagai orang sekitar berikan untuk orang dengan gangguan depresi?

Jawabannya adalah waktu. Waktulah yang paling berharga yang bisa kita berikan kepada mereka. Waktu bisa kita berikan dengan beberapa cara:

Bersabarlah. Terkadang respon komunikasi verbal yang diberikan tidak selalu sesuai harapan atau cocok dengan semua orang. Tenang dan dengarkanlah agar mereka mau terbuka untuk dibantu.
Luangkan waktu untuk mencari tahu lebih banyak soal gangguan yang dihadapi. Dedikasikan sedikit waktumu untuk memahami mereka. Banyak kok literatur yang bisa membantumu dalam hal ini.
Berikan waktu berkualitas untuk mereka. Apalagi ketika sedang mengalami episode dan butuh dukungan fisik dan emosional. Coba beraktivitas bersama, ajak jalan-jalan, baca buku, main game, mendengarkan musik, atau refleksi.
Sediakan waktu penyembuhan. Kenali kapan mereka butuh sendiri. Kenali juga gejala-gejala yang ada. Ajak untuk pergi ke ahli bila kamu melihat gejala depresi yang tidak aman baginya. Bisa konselor, psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan mental lainnya!

Tidak lupa tentu adalah stigma yang diberikan. Menganggap remeh dan mengucilkan gejala dan gangguannya sama sekali tidak membantu. Apalagi membandingkannya dengan gangguan fisik. Stigma justru sebenarnya merupakan salah satu penerus atau faktor yang memperparah gangguan depresi. Seharusnya memiliki optimisme atau kesempatan sembuh lebih tinggi, akhirnya gagal karena stigma yang diberikan. Semakin dekat kalian dengan orang yang mengalami gangguan depresi, semakin kuat stigma yang diberikan.


Itulah beberapa hal singkat yang bisa kita berikan sebagai orang awam. Ingat, depresi bukan ‘gila’, ‘caper’, atau rasa ‘nggak bersyukur’. Justru merekalah yang selalu mencoba untuk bersyukur dan fokus pada apa yang bikin mereka bahagia. Itulah salah satu senjata mereka melawan pikiran negatif. Itulah struggle mereka!

Justru ada kenalan saya yang saya nilai lebih kuat rasa bersyukurnya akan setiap hal ketimbang orang-orang yang sehat mental tapi sering take for granted hal-hal yang berjalan baik di sekitarnya (tapi ini cerita untuk lain kali).

Orang sekitar seperti kamu dan saya adalah kunci untuk membantu mereka. Walau misalnya bukan ahli, tetap kita bisa rujuk ke ahli kok! Sekarang banyak tenaga profesional kesehatan mental yang aktif mengadvokasikan kesehatan mental melalui postingan blog, media sosial, dan media massa. Nggak ada alasan nggak nemu bantuan yang cocok!

Semoga artikel ini bikin siapapun yang membacanya lebih paham soal depresi ya!

Share the article
error

Leave a Comment