Episode Mood Disorder

Apa yang Boleh dan Tidak Dilakukan Ketika Menghadapi Orang yang Sedang Mengalami Episode Mood Disorder?

Mood Disorder atau gangguan suasana hati, merupakan salah satu gejala klinis yang melanda kesehatan mental sebagian besar remaja dan dewasa. Untuk yang belum tahu, gangguan suasana hati adalah gangguan kesehatan mental yang mempengaruhi gejolak emosi, perasaan, dan suasana hati secara keseluruhan, membuat psikis kita tidak berfungsi dan mengelola informasi seperti biasanya. Sekitar 6% populasi remaja dan orang dewasa di Indonesia mengalaminya, menurut data dari Departemen Kesehatan pada tahun 2016.

Gangguan suasana hati bisa datang dalam berbagai bentuk. Mungkin yang paling sering didengar adalah depresi yang hadir dalam bentuk ringan (mild) dan berat (Major Depressive Disorders), sering juga disebut dengan depresi klinis. Selain itu, masih ada gangguan suasana hati yang bersifat musiman, hanya ketika masa-masa tertentu sepanjang tahun, dikenal dengan Seasonal Affective Disorder.

Ada juga gangguan yang disertai fase manik atau masa suasana hati yang melambung tinggi dan ekspresif, lawan dari gejala depresi yang biasa menurunkan semangat, energi, dan mendatangkan banyak pikiran negatif–gangguan bipolar. Efek moodnya bisa datang dengan tiba-tiba hampir selalu tanpa pertanda sebelumnya, dinamakan episode.

Dikarenakan sifatnya yang tidak tampak secara fisik, maka terkadang bisa cukup menantang untuk orang sekitar berhadapan dengan individu yang mengalaminya. Dalam artikel ini, saya ingin membagikan pengalaman membaca dan menghadapi orang yang mengalami episode mood disorder dalam keseharian. Apa saja yang boleh dan tidak dilakukan? Yuk, simak!

Kenali dulu alasan kapan episodenya muncul

Episode Mood Disorder
Bagi teman dan keluarga, akan sangat baik apabila bisa mengingat pola dan mengobservasi ketika terjadinya episode. Hal ini memudahkan kita untuk mencari tahu lebih jelas apa pemicu, atau apa yang membuat (trigger) episode tersebut terjadi.

Baik juga untuk mencoba mencari tahu apa yang terjadi ketika episode muncul. Bagaimana reaksi mereka. Apa gejala perilaku dan sikap yang ditunjukkan, dan kenali kebiasaan yang berbahaya apabila ada. Terakhir, penting juga untuk mengetahui apa yang mungkin menyebabkan gangguan ini pada mulanya, sehingga mencari pemicu atau trigger , dan memahaminya akan lebih mudah.

Dengan begitu, akan semakin mudah bagi kita untuk memberikan reaksi yang optimal.

Beri waktu, tapi jangan tinggalkan!

Episode Mood Disorder
Walau gejala setiap orang itu unik, salah satu hal yang saya pelajari dari pengalaman adalah kita perlu bersabar dalam memberi waktu kepada orang yang sedang mengalaminya. Artinya, jangan dipaksa, diburu-buru untuk melakukan apapun. Apabila tidak direspon, boleh coba tanya kembali, tapi dengan nada yang sama dan pacing yang sama.

Berikanlah mereka waktu untuk tenang sejenak, tapi jangan tinggalkan begitu saja. Tetaplah bersama mereka hingga tenang kembali, walaupun kamu harus diam dan bersabar dalam tangisan, keheningan, ataupun amarah.

Bertanya, tapi jangan berteriak

Episode Mood Disorder
Mencoba berkomunikasi merupakan hal yang baik ketika menghadapi orang dengan episode gangguan suasana hati. Namun perhatikan, komunikasi yang baik adalah komunikasi yang sifatnya dua arah. Apabila kamu tidak menemukan respon, maka jangan tanya terus. Artinya, mungkin orang tersebut belum ingin berkomunikasi. Atau, perhatikan respon non verbal dari orang tersebut, misalnya dia meneteskan air mata, atau gerakan tangan yang menutupi kuping, dan lain sebagainya. Bisa saja memberikan respon terhadap gerakan tubuhnya tersebut.

Tindakan yang dilakukan mungkin saja membuat frustasi. Seperti mengerang, menangis tiada henti, memilih untuk diam selalu, atau bahkan meretaliasi dengan memukul atau kabur. Penting bagi kita untuk tidak reaktif dan tenang. Tidak berteriak, memarahi, ataupun mencaci. Ketahuilah bahwa kondisi otak dan jiwanya sedang tidak stabil, dan itu bukan mereka yang sesungguhnya “membenci”, “melawan”, “membangkang” atau “marah” dengan kita. Penting sekali agar ini tidak dilupakan.

Bagaimana dengan kontak fisik?

Episode Mood Disorder
Ini yang cukup penting, tapi kadang gagal dipahami oleh banyak orang, terutama orang tua. Ketika anak atau teman yang mengalami episode sedang panik atau tantrum, ada baiknya kita melakukan kontak fisik. Misalnya, bisa merangkul untuk menghentikan pelampiasan yang terlalu keras. Atau bahkan pegangan tangan (atau memberikan tangannya dipegang) bisa sangat membantu mereka untuk tenang.

Komunikasi seperti itu akan lebih mudah dimengerti oleh tubuh yang sedang panik, karena berkaitan langsung dengan saraf dan hormon, ketimbang kata-kata yang perlu didengar dan diproses terlebih dahulu. Hal ini tentu lebih baik daripada mengurung, mengikat, memeluk dengan keras, atau bahkan memukul yang akan semakin membuat orang dengan episode panik, takut, dan kebingungan. Jangan pernah melakukan hal ini, tak peduli seberapa tidak tahan dengan orang tersebut, ya!

Apabila ia sedang tidak ingin disentuh, tidak apa-apa. Hormati saja keinginan tersebut! Tetap tenang, tersenyum, dan berikan kata-kata menenangkan terlebih dahulu.


Apapun yang terjadi, prioritasnya hanya satu: untuk menenangkan individunya terlebih dahulu. Baru pelan-pelan apa yang kamu ingin tanyakan (“apa yang terjadi?”, “apa yang bisa dibantu?”) bisa perlahan terjawab. Bila kamu peduli, maka ini adalah perangmu. Perangmu bersama individu tersebut melawan gangguan yang dialaminya. Ingat, gangguan suasana hati itu bersifat konstan bergejolak.

Jangan pernah meremehkan setiap episode dengan pemikiran bahwa mereka sekadar melakukan aksi ‘mencari perhatian’. Mereka tidak bisa mengontrolnya sama sekali apabila sedang terjadi episode berat. Kamulah satu-satunya harapan bantuan agar mereka bisa lebih nyaman kembali. Ketika sudah tenang, baru ajak ngobrol, makan, minum, jalan-jalan dan kenalan dengan ahlinya, yaitu Psikolog atau Psikiater.

Sumber:
Departemen Kesehatan RI. (2016, October 6). PERAN KELUARGA DUKUNG KESEHATAN JIWA MASYARAKAT. Retrieved Aug 29, 2018, from http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html

Share the article

About Dessy Ilsanty

Psikolog Klinis praktek di Jakarta

Leave a Comment