Paste your Google Webmaster Tools verification code here
Dessy Ilsanty, M.Psi

Artikel2

Kesamaan, Kunci Kelanggengan Hubungan?

Read on WomanTalk

WomanTalk

Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan menjalin hubungan dengan sesama dan mencari pasangan hidup yang bisa dipertahankan hingga akhir hayat. Disadari atau tidak, sejak remaja manusia umumnya mulai mencari tahu akan seperti apa pasangan hidupnya. Kemudian, bisa jadi mengembangkan kriteria-kriteria pasangan yang diinginkan.

Kebanyakan orang akan mencari pasangan (atau berharap bertemu pasangan) yang dirasa memiliki banyak kesamaan atau kecocokan dengan diri sendiri. Biasanya, bila bertemu seseorang yang memiliki banyak kemiripan atau kecocokan dengan diri sendiri, sering terpikir “sepertinya orang tersebut adalah jodoh saya”. Iya, kan?


Sesama penyuka hobi ekstrem bakal punya hubungan lebih langgeng?

Tetapi pada kehidupan yang sesungguhnya, tidak sedikit ya kita bertemu dan mengenal pasangan yang kelihatannya memiliki banyak perbedaan di antara mereka, namun mereka jelas terlihat sebagai pasangan yang serasi dan langgeng. Kenyataan ini menimbulkan pertanyaan, haruskah pasangan itu memiliki banyak persamaan satu sama lain agar dapat menjalin hubungan yang harmonis dan langgeng?

Memang betul, banyak persamaan dengan pasangan (minat, selera, nilai, dan lainnya), akan membuka kemungkinan terjalinnya aktivitas yang dapat dilakukan dan dinikmati bersama. Kegiatan bersama ini memperkecil kemungkinan terjadinya konflik minat yang dapat mengakibatkan perdebatan. Menjadi wajar apabila semakin memupuk rasa cinta terhadap pasangan. Namun, kesamaan ini bukan berarti pasangan yang bertolak belakang dalam banyak hal tidak bisa menjadi pasangan yang harmonis dan langgeng.


Kesamaan tidak sama dengan hubungan langgeng.

Haruskah punya banyak kesamaan dengan pasangan agar bisa menjalin hubungan yang langgeng? Jawabannya tidak. Kesamaan dengan pasangan bisa memberikan keuntungan dan kemudahan. Tetapi tanpa banyak persamaan pun sangat bisa terjalin hubungan yang ideal. Kuncinya, seberapa besar kemauan masing-masing pihak dalam sebuah pasangan dalam menjalin hubungan dan berupaya mencapai yang diinginkan tersebut. Artinya, masing-masing pihaklah yang menciptakan kecocokan tersebut.

Penekanan pada sikap saling menghargai satu sama lain akan membantu membuat perbedaan di antara pasangan tidak menjadi persoalan berat. Saling berusaha membahagiakan pasangan juga penting dalam upaya menjalin hubungan ideal. Bila pun muncul perdebatan atau konflik akibat perbedaan di antara pasangan, dengan bentuk komunikasi yang baik dan tepat, hal tersebut dapat diatasi dengan baik. Bahkan, perdebatan tersebut akan memperkaya pemahaman tentang pasangan dan dapat menjadi alat untuk semakin menghargai hubungan yang sedang dijalin bersama.

Seperti yang dikatakan oleh Dr John Gottman, profesor di bidang Psikologi di University of Washington, Seattle, Amerika Serikat, kepribadian seseorang tidak dapat benar-benar memperkirakan seberapa lama atau kesuksesan dari sebuah hubungan. Dari penelitiannya, Gottman menemukan, pasangan yang memfokuskan energi dalam membentuk sesuatu yang bermakna dalam hidup secara bersama-sama cenderung memiliki hubungan lebih langgeng.

Kata Pakar: Tugas Paling Sulit, Menyampaikan Berita Buruk!

Read on WomanTalk

WomanTalk

Salah satu hal yang termasuk paling sulit dalam kehidupan sosial, adalah ketika harus menyampaikan berita buruk kepada seseorang, khususnya kepada orang yang dekat. Biasanya kita mengkhawatirkan reaksi orang terhadap berita yang akan disampaikan dan bagaimana responnya terhadap sang pembawa berita (alias kita sendiri). Bisa jadi dia akan sedih, kecewa atau bahkan marah. Apakah sebaiknya dibarengi dengan berita baik, agar kemudian dapat  menghibur setelah mengalami emosi yang buruk. Cara penyampaian berita juga pasti memengaruhi penerimaan dan pemrosesan sang penerima.

Pertama, dimulai dengan mempersiapkan berita buruk yang akan disampaikan. Kemudian mari telaah, apakah ada berita lain yang sifatnya baik yang dapat disampaikan? Jika jawabannya ya, maka hal ini dapat membantu. Lanjutkan dengan pertanyaan; apakah berita buruk tersebut mengandung umpan balik yang bermanfaat dan bersifat jangka panjang bagi penerima berita? Jika ya, maka mulai percakapan dengan berita baik. Dalam sebuah studi di University of California, para penerima tes kepribadian tampak lebih dapat menerima (reseptif) berita yang negatif jika mereka menerima berita yang lebih menyenangkan terlebih dahulu. Khususnya jika berita buruk tersebut menuntut adanya tindakan, seperti review performa, dengan dibekali hal yang positif terlebih dahulu akan dapat membantu. “Berita baik terlebih dahulu, kemudian berita buruk, baru kemudian solusi konkret” demikian kutipan dari studi tersebut.

Jika pertanyaan kedua dijawab dengan tidak, berarti, sampaikan berita buruk terlebih dahulu. Dalam hal ini akan banyak melibatkan kecemasan. Jika tahu bahwa kita akan menerima berita yang tidak menyenangkan, biasanya ingin cepat melewatinya. Bila keadaannya, tidak ada yang bisa dilakukan oleh si penerima berita – seperti jadwal pesawat yang dibatalkan atau ada keluarga yang mengalami kecelakaan – tampaknya lebih baik bagi penerima berita jika kemudian diberikan hikmah dibalik berita buruk tersebut pada akhir percakapan.

Namun bagaimana jika akan menyampaikan berita buruk tetapi tidak ada berita baik lainnya yang dapat disampaikan secara bersamaan? Lanjutkan dengan pertanyaan, apakah berita ini buruk berdasarkan penilaian kita sendiri atau cenderung subyektif? Pertanyaan ini juga menjadi lanjutan setelah memberikan berita baik dan juga berita buruk, seperti langkah di atas. Kita perlu memahami apakah berita buruk yang akan disampaikan itu dari penilaian kita sendiri, atau memang faktanya berita buruk.

Jika pertanyaan terakhir dijawab dengan ya, dan alasannya pun tidak rumit, maka sebaiknya sampaikan berita buruk tersebut secara langsung, bertatap muka jika memungkinkan, atau melalui telepon. Jika ingin menunjukkan kepada penerima berita bahwa kita pun ikut merasakan apa yang dirasakan olehnya, hal yang paling baik adalah penyampaian secara langsung, baru setelah itu melalui telepon. Jika jawabannya ya, tetapi alasannya merupakan suatu hal yang rumit (complicated), coba dipikirkan lagi; apakah berita tersebut sangatlah serius atau hubungan kita dengan penerima berita penting? Jika ya, berarti beritanya sebaiknya sampaikan secara langsung. Tetapi jika beritanya tidak begitu serius atau hubungan kita dengan penerima berita juga tidak terlalu penting, maka bisa disampaikan melalui email atau surat. Awali surat dengan penjelasan. Hal ini akan lebih bermanfaat jika penjelasan melalui tertulis dapat lebih jelas dan mendalam dibandingkan melalui telepon.

Nah sekarang, jika beritanya setelah dipikirkan dalam-dalam ternyata tidak terlalu buruk, tidak serius atau penerima berita juga bukan orang yang terlalu penting bagi kita, penyampaian bisa dilakukan dengan email atau surat. Tetapi jika berita tidak terlalu buruk, tetapi beritanya mengandung hal yang serius atau hubungan kita dengan penerima berita juga penting, maka sebaiknya sampaikan secara langsung.

Meminta Ma’aflah Dengan Tulus

Read on WomanTalk

WomanTalk

 

Manusia tentu tidak pernah luput dari berbuat kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna kan? Dari kesalahan yang telah diperbuat seseorang tersebut, bisa memberikan dampak negatif hanya kepada diri sendiri atau bisa juga memberikan dampak negatif kepada orang lain. Bisa kesalahan dalam perbuatan, atau bisa juga kesalahan dalam berucap. Nah, jika melibatkan orang lain, bisa jadi kesalahan yang kita perbuat tersebut membuat orang lain merasa sedih, kecewa atau marah. Ketika kita berbuat salah terhadap orang lain, sudah sepatutnya kita meminta maaf.

Sumber: Giphy

Terkadang, mengucapkan kata maaf bukan hal yang mudah untuk dilakukan, namun perlu diucapkan. Bagi pihak yang mendengarkan kata maaf juga belum tentu langsung menerima dan benar-benar memaafkan dan melupakan. Ternyata, meminta dan mengucapkan kata maaf, ada kiatnya agar efektif, juga yang dimintai maaf merasa dihargai dan melihat bahwa kita sungguh-sungguh menyesal.

Seorang profesor dari The Ohio State University, Roy J. Lewicki, bersama beberapa rekannya, melakukan sebuah studi yang melibatkan 755 orang, untuk melihat bagaimana mereka bereaksi terhadap spektrum permintaan maaf. Dari studi tersebut, mereka menyimpulkan adanya 6 elemen dari permintaan maaf yang efektif, yaitu:

1. Ekspresi penyesalan (expression of regret)
2. Penjelasan atas apa yang salah (explanation of what went wrong)
3. Pengakuan akan tanggung jawab (acknowledgment of responsibility)
4. Pernyataan akan penyesalan (declaration of repentance)
5. Menawarkan untuk memperbaiki (offer to repair)
6. Permintaan akan pengampunan (request to forgiveness)

Para peneliti tersebut menyimpulkan bahwa walaupun permintaan maaf yang mengandung keenam elemen diatas adalah yang terbaik, namun tidak semua elemen ini memiliki bobot yang sama. Lewicki mengatakan bahwa hasil temuan mereka menyebutkan bahwa elemen yang paling penting adalah elemen nomor 3, yaitu adanya pengakuan akan tanggung jawab. Mengatakan bahwa, “Ini adalah kesalahan saya, saya telah membuat kesalahan”.

Selanjutnya Lewicki juga mengatakan bahwa elemen yang kedua terpenting adalah elemen nomor 5, yaitu menawarkan untuk memperbaiki. Sekedar mengucapkan kata maaf adalah hal yang tidak sulit. Tapi dengan mengatakan “saya akan memperbaiki kesalahannya”, bisa memberikan arti adanya komitmen untuk mengambil tindakan nyata dalam memperbaiki kerusakan. Lewicki juga menekankan bahwa terlihatnya ketulusan dan emosi yang terpancar dari suara yang mengucapkan maaf dapat memiliki dampak yang kuat terhadap efektivitas dari sebuah permintaan maaf. Diperjelas juga bahwa kontak mata dan ekspresi yang tepat juga penting ketika melakukan permintaan maaf secara langsung.

Di zaman yang serba digital saat ini, tidak jarang kita justru berkomunikasi melalui cara yang virtual. Mungkin karena alasan efisiensi atau mungkin karena alasan waktu yang tidak tepat dan terbatas. Namun apapun alasannya, sebaiknya kita tetap menyadari bahwa ketika hendak mengucapkan permintaan maaf, sebaiknya dilakukan secara langsung.

Sejarah Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

psikologi ui

Lahirnya Pendidikan Psikologi di Indonesia diawali oleh pidato ilmiah Prof. Dr. Slamet Iman Santoso dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Universitas Indonesia pada Dies Natalis Universitas Indonesia pada tahun 1952 di Fakultas Pengetahuan Teknik UI di Bandung (sekarang ITB). Dalam pidato tersebut, beliau antara lain mengemukakan penggunaan pemeriksaan psikologis untuk mendeteksi the right man on the right place, dan menghindari the right man on the wrong place, the wrong man on the right place, serta the wrong man on the wrong place. Sebagai kelanjutan dari pidato tersebut, di lingkungan Kementerian Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan (disingkat Kementerian PP&K), pada tanggal 3 Maret 1953 diselenggarakan Kursus Asisten Psikologi, yang diketuai oleh Prof. Dr. Slamet Iman Santoso.

Tak lama setelah itu, masih dalam lingkungan Kementerian PP&K, didirikan Lembaga Psikologi, yang kemudian berubah statusnya menjadi Lembaga Pendidikan Asisten Psikologi yang secara langsung berada di bawah pimpinan Universitas Indonesia. Pada tahun 1955, Pendidikan Psikologi Asisten Psikologi diubah statusnya menjadi Pendidikan Sarjana Psikologi, yang secara administratif berada di bawah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dalam SK Menteri Pendidikan, Pengadjaran & Kebudajaan Republik Indonesia No. 108049/U.U. dinyatakan bahwa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dimulai tanggal 1 Djuli 1960. Dengan demikian, tahun 1960 merupakan tahun kelahiran Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, dengan Dekan pertamanya Prof. Dr. Slamet Iman Santoso. sumber: website Fakultas Psikologi Universitas Ind0nesia

10 Questions To Ask Yourself For A Happier, More Soulful You

Artikel ini saya baca di majalah Prevention edisi bulan February 2014, oleh Eden Clark dan John Germain Leto.

Sudah sewajarnya jika kita ingin hidup bahagia. Ada cara untuk mencapainya, jika memiliki kemauan untuk ‘mengontrol’ hidup sendiri. Artikel ini memberikan 10 pertanyaan yang bisa ditanyakan ke diri sendiri, untuk memberikan pemikiran yang lebih mendalam tentang hidup yang kita jalani. Harapannya, dapat memberikan arahan yang lebih jelas mau dibawa kemana hidup kita ini.

Saya share secara singkat disini ya, 10 pertanyaan itu…

1. Am I happy
? – Apakah saya bahagia? Ketika bertanya pada diri sendiri tentang kebahagiaan sendiri, coba untuk rasakan jawabannya di dalam diri sendiri.

2. How often do I take time for stillness? – Seberapa sering menyediakan waktu untuk berdiam diri? Cukup hanya 60 detik atau beberapa menit untuk waktu tenang, pause, bernafas yang tenang dan melihat kehidupan secara menyeluruh (bigger picture).

3. When have I felt the most radiant? – Kapan merasa diri paling bersinar/berseri? Ingat kembali momen dimana kita merasa paling hidup dan bahagia. Apa yang membuat rasa itu hadir, itulah clue tentang naluri kita.

4. Do I trust my inner guidance? – Apakah mempercayai arahan dari dalam diri? – Terkait dengan kemampuan untuk mendengarkan kata hati dan mempercayainya.

5. Can I let the past go? – Bisakah melepaskan masa lalu? Seringkali pilihan-pilihan kita mempertimbangkan pengalaman negatif masa lalu supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Secara bersamaan, hal ini bisa jadi menutup diri kita dari pengalaman baru, petualangan baru dan bahkan dari lingkungan sosial. Fokuskan diri pada apa yang diinginkan.

6. Do I always expect a certain outcome? – Apakah selalu mengharapkan hasil tertentu? Coba tempatkan diri dalam situasi ‘mungkin saya tidak tahu hasilnya seperti apa’. Ini mengarahkan kita untuk jadi lebih terbuka terhadap berbagai kesempatan, allowing the universe to conspire on your behalf.

7. What are the greatest wounds that I’ve healed? – Luka terbesar apa yang sudah disembuhkan? Pengalaman ini memberikan pembelajaran yang sangat berharga.

8. Do I follow my heart or listen to my head? – Apakah mendengarkan kata hati atau mengikut pemikiran? Kata hati selalu tahu cara untuk mencapai kebahagiaan diri.

9. Do I view life as abundant? – Apakah melihat kehidupan sebagai sesuatu yang berlimpah? Apakah cenderung untuk mengeluhkan apa yang tidak diperoleh, ketimbang mensyukuri apa yang sudah diperoleh? Perasaan berlimpah akan hadir jika kita bisa melihat bahwa kita menerima apa yang memang dibutuhkan.

10. Do I believe I can create the life I want? – Apakah percaya bahwa saya dapat menciptakan kehidupan yang diinginkan? Ketika kita tidak percaya bahwa kita memiliki kekuatan tersebut, artinya kita membiarkan orang lain atau hal lain yang mengarahkan kehidupan dan kebahagiaan kita.

Mental Health Disability is On The Rise

konseling psikolog

Sebuah artikel di majalah Psychology Today, dengan judul ‘What’s Troubling Americans’, menyebutkan bahwa berdasarkan penelitian terhadap ratusan ribu orang Amerika berusia dibawah 65 tahun, ditemukan bahwa gangguan kesehatan mental sedang meningkat, bahkan ketika cacat fisik justru sedang menurun.

Tingkat gangguan kesehatan mental meningkat dari 2% (populasi bukan-orangtua di tahun 1997) menjadi 2.7% (di tahun 2009). Ramin Mojtabai, seorang psikiater di John Hopkins, mengatakan orang Amerika mulai memahami bahwa distres (tekanan) psikis dapat melemahkan tubuh dan gangguan ringan seperti depresi dan kecemasan seringkali diiringi gejala fisik.

David Chambers, seorang peneliti di National Institute of Mental Health, menekankan dibutuhkannya perawatan kesehatan yang terintegrasi, sehingga pasien yang mengunjungi dokter, misalnya dengan keluhan migraines, juga memperoleh perawatan untuk depresi yang mungkin menjadi penyebabnya.

Meningkatnya gangguan kesehatan mental yang dilaporkan sendiri oleh pasien, bisa jadi bukan merupakan sebuat tren yang terus meningkat, namun bisa jadi merupakan peningkatan sementara yang diciptakan oleh suksesnya kampanye kesadaran akan kesehatan mental.

***

Bagaimana dengan di Indonesia? Menurut saya, bagaimanapun juga, di Indonesia mengalami hal yang sama, hanya saja masih berada dibelakang Amerika. Artinya, kesadaran masyarakat Indonesia akan kesehatan mental masih telihat minim. Amerika saja baru meningkat toh, apalagi Indonesia… ‘baru akan mau’ meningkat ya kayaknya…

Seperti disebutkan pada artikel di atas, bahwa semakin adanya kesadaran akan kesehatan mental pada masyarakat, bisa jadi kasus gangguan kesehatan mental akan meningkat. Artinya bisa jadi menganggap bahwa semakin banyak ‘orang gila’ di Indonesia ini.

Sudah siapkah kita?