Perilaku Sehat

Perilaku Sehat Dipengaruhi oleh Tiga Hal, Apa Saja?

Di tengah restoran fast food yang semakin marak dan banyak macamnya, di tengah restoran yang menawarkan melted cheese dan telur asin untuk semua menunya, dan di tengah cafe merupakan tempat favorit kita untuk nongkrong sambil bekerja dan bermain, kenaikan berat badan cukup sulit dihindari di Indonesia. Cukup sulit untuk tidak makan-makanan berkarbo zaman sekarang. Air mineral saja ada yang manisnya!

Tidak perlu saya jelaskan, pasti kamu sedikit banyak tahu apa yang akan terjadi kalau kebanyakan makan karbohidrat kompleks, makanan berlemak, dan minum kebanyakan gula. Kolesterol, tekanan darah, serta kemungkinan terkena serangan jantung berbanding lurus dengan tingkat konsumsi makanan tersebut.

Mungkin di antara kalian ada yang berpikir sama dengan kenalan saya, kalau yang penting berolahraga dengan rutin dan selalu bergerak, maka kita bebas makan apa saja. Atau yang penting gizi tercukupi dan tidak kekurangan vitamin, maka tidak apa-apa. Walau benar rutin berolahraga merupakan perilaku sehat yang sangat dianjurkan. Namun, buat kalian yang ‘ketagihan’, itu tidak cukup!

Produk kola misalnya, banyak yang bertuliskan zero sugar atau tidak mengandung gula. Tapi, pemanis kan bukan hanya gula. Banyak pemanis lainnya dan kafein yang tetap ada di dalamnya. Jadi walaupun itu terbilang soda ‘diet’, tetap saja bikin ketagihan, dan yang bikin ketagihan, biasanya tidak baik untuk tubuh.

Perilaku sehat yang harus diemban justru adalah makan-makanan lain yang tidak mendorong penumpukkan lemak dan meninggikan kadar gula dalam tubuh.

Setuju?

Tapi?

Masalahnya, tidak semudah yang saya jelaskan. Seperti orang merokok yang selalu terpapar dengan gambar menjijikkan tetapi tetap tidak bisa berhenti, ketika kita yang sudah suka dengan bumbu mi instan, keju di atas ayam goreng, dan menu-menu serba salted egg, implikasi-implikasi buruk serasa tidak nyata. Mengapa?

Di sini, saya ingin berbagi bukan cara untuk hidup lebih sehat, tapi justru ingin mengajak kalian untuk paham terlebih dahulu alasan perilaku yang tidak sehat sulit dihindari. Dari sini, nanti bakal tahu deh apa masalahnya, sehingga lebih mudah dan tepat sasaran bila kamu ingin mengatasinya.

Kuncinya ada tiga dan sebetulnya cukup sederhana, yaitu pada kejelasan, harapan, dan keyakinan. Kok bisa?

Dilema dan disonansi

Perilaku Sehat
Jadi begini sebenarnya cara otak kita bekerja. Ketika ada dua pemikiran yang berkontradiksi dalam benakmu dan membuatmu bingung, otak akan mengalami disonansi. Disonansi bukan hanya ketika kamu harus memilih antara 2 hal yang sama baiknya, justru ciri khas disonansi adalah ketidaknyamanan yang kamu rasakan.

Paling simpel, kalau yang pernah belajar Psikologi tahu banget contoh yang paling riil adalah perilaku merokok. Selain suka merokok, kita tahu kalau kebanyakan perokok sayang dengan nyawa dan kesehatan mereka sendiri. Nggak mungkin mereka tidak peduli. Nah, menariknya di sini.

Di satu sisi, seorang perokok tahu apa manfaat tidak merokok: ia bisa sehat dan menghemat banyak uang. Tapi di sisi lain, ada alasan kuat yang biasanya berbeda-beda antara individu. Ada yang bilang merokok bikin semakin dekat dengan teman-teman lain, lebih kreatif, penurun stres, dan macam-macam. Dilema terjadi: pilih itu semua, atau usia yang panjang? Beda dengan memilih baju yang dipakai buat Lebaran, pilihan ini justru menuntut seseorang untuk mengorbankan hal yang besar (hebat ya sebuah rokok?)!

Namanya juga manusia, mana ada yang suka dengan perasaan gak nyaman. Biasanya, pasti ada keputusan yang diambil. Bila berhenti merokok, alternatif untuk membangun hubungan dengan teman atau pereda stres bisa dicari. Mungkin jadinya berpikir “nggak apa-apa nggak ngobrol, yang penting waktu di dunia masih panjang, dan orangtua juga nggak khawatir lagi”. Pokoknya, bakal banyak alasan, yang bisa mendukung.

Atau, bisa juga terus merokok. Mungkin alasannya adalah tuntutan pekerjaan, bisa dikurangi dan semakin kasual, atau hanya ketika stres saja. Tidak kalah banyak alasannya. Tapi yang penting, ujung-ujungnya kita akan lebih tenang, karena sudah memilih.

Kunci di sini, menurut saya adalah cari sebanyak mungkin informasi dan tentukan keputusan yang jelas secepat mungkin selagi bisa. Saya tahu apabila mungkin, kamu ingin menikmati rokok tanpa konsekuensi kesehatannya. Artinya, kamu peduli dengan kesehatan dan tidak ingin terkena komplikasi kesehatan karena rokok. Maka dari itu, semakin awal kamu menentukan untuk tidak merokok, dan semakin awal kamu mencari alasan untuk tidak merokok, maka semakin kecil kemungkinan kamu untuk nagih.

Di lain sisi, mengonsumsi makanan cepat saji, keju-kejuan, santan, pedas, atau lainnya yang membuat ketagihan punya proses yang mirip. Bedanya adalah: tidak semudah itu membuatmu nagih, efeknya tidak langsung kelihatan, lebih mudah untuk ditinggalkan, bisa dikonsumsi di mana saja, dan tidak akan ada yang terlalu khawatir apabila mengonsumsi terlalu banyak. Belum lagi variasi baru yang selalu bermunculan bikin kamu pengen nyobain semuanya.

Semua hal tersebut bikin kamu semakin sulit untuk meninggalkan makanan-makanan tersebut. Tapi itu bukan yang paling bahaya.

Bahayanya adalah, terkadang saking nyamannya dirimu dengan makanan-makanan tersebut, disonansi tidak muncul! Artinya, otak tidak cukup sadar/peduli tentang dampak yang ditimbulkan untuk membuatmu tidak nyaman akan perilaku tersebut. Kalau sudah begini, bahaya. Karena tahu-tahu sudah ada rasa sakit di belakang pundak, perut membengkak, dan pernafasan semakin sulit. Bagi yang baca ini, boleh biasakan cari tahu dulu informasi seperti kalori yang ada, efek samping, serta pola makanmu selama beberapa hari terakhir sebelum membuat keputusan untuk mencoba semuanya.

Optimisme dan harapan yang tidak realistik

Perilaku Sehat
Perilaku tidak sehat seringkali diadopsi dan dipopulerkan oleh generasi yang lebih muda. Ada alasannya. Banyak anak muda memiliki tingkat optimisme non-realistik yang lebih tinggi dan cenderung dibawa ke usia lanjutnya.

Misalnya, mungkin sering kita mendengar kalimat ‘sedikit saja tidak apa-apa’ atau ‘masih muda masih kuat masih tahan banting’. Umumnya, kata-kata ini digunakan oleh orang yang sedang mengalami disonansi untuk menenangkan mereka sendiri. Tenang karena, hampir tidak mungkin ‘sesial’ itu, jatuh sakit atau terkena penyakit lainnya karena perilakunya.

Apalagi bila orang tersebut ‘beruntung’ dan tidak sakit selama makan berlemak dan minum yang manis-manis. Maka ia semakin optimis bahwa ia tidak akan terkena dampak buruk. Muncul lagi argumen “kalau sakit mah, udah dari dulu” yang menandakan kalau sebelumnya tidak terjadi terlepas perilaku berulang, sekarang juga tidak mungkin.

Padahal realitanya, tanpa perlu merujuk pada statistik, kita semua tahu akan dampak karbon monoksida, tar, gula, dan kolesterol yang menumpuk itu seperti ada. Yang ada justru semakin bertambah usia, semakin rendahnya daya tahan tubuh, dan semakin sering perilaku muncul maka semakin tinggi juga kemungkinan kita jatuh sakit.

Kunci menangkal optimisme berlebihan ini cukup sederhana, yaitu kita butuh reality check atau sumber-sumber yang selalu mengingatkan kita akan kerentanan kita terhadap dampak buruk dari perilaku kita.

Keyakinan membentuk perilaku kesehatan kita!

Perilaku Sehat
Kenapa membahas dua poin di atas? Karena saya ingin menunjukkan apa yang membuat kita berpikir dan membuat keputusan terkait kesehatan. Soalnya, dua hal di atas akan mempengaruhi keyakinan kita dengan perilaku. Mari kita bahas prosesnya lebih lanjut.

Sedikit panjang, iya. Tapi dengan ini, kalian akan lebih paham dan mudah discover cara berpikir diri sendiri, sehingga akan lebih kritis dalam memutuskan untuk meninggalkan konsumsi-konsumsi yang buruk.

Jadi begini.

Berbicara tentang keyakinan kesehatan, penelitian dari Barat cenderung mengacu pada satu model lengkap, bernama Health Belief Model atau model kepercayaan kesehatan. Di dalamnya menganalisa apa saja hal yang kita pertimbangkan sampai akhirnya memutuskan. Dari sana, perilaku kita bisa diprediksi.

Jadi model ini mengatakan kalau keyakinan kita ditentukan oleh tiga hal. Pertama, persepsi kita terhadap keparahan dan kerentanan suatu gangguan. Semakin kita merasa suatu gangguan itu parah, dan kita rentan terhadapnya, semakin rendah kemungkinan kita akan melakukan sesuatu yang akan menyebabkannya. Misalnya, bila kita tahu makan ayam goreng keju terus terusan akan menyumbat arteri dan pada usia kita banyak yang menderita penyakit syaraf dan jantung, maka kita akan terdorong untuk menguranginya.

Kedua, ditentukan oleh ‘ganjaran’ dari perilaku kita. Di sini, otak akan menimbang-nimbang manfaat dan tantangan dalam melakukan hal tersebut. Pertanyaan yang muncul bisa berupa “apa manfaat lari pagi” melawan “apa yang harus saya lakukan untuk bisa lari pagi”. Bila kamu seperti saya dulu yang tidur subuh karena mengerjakan tugas dan tidak punya waktu untuk lari di pagi hari, maka kemungkinan besar lari pagimu tidak akan terealisasikan.

Sama juga dengan minum es teh manis di setiap makan siang. Mungkin manfaatnya adalah meredakan dahaga dan bikin adem, dan tantangannya sangat kecil, seperti hanya membayar kurang dari lima ribu Rupiah. Konsekuensinya pun tidak langsung tampak dalam sehari dua hari, ya wajar saja itu terus dilakukan. Tapi bila suatu saat sadar bahwa perut semakin buncit dan uang yang dikeluarkan sudah terlampau banyak untuk hasil jangka panjang yang tidak memuaskan, maka mungkin sekali perilaku tersebut kamu hentikan.

Terakhir, selain punya pertimbangan tersebut, keyakinan juga butuh didorong. Jadi ketika ada cue dari luar seperti bujukan atau permintaan orang di sekitar untuk berhenti atau mulai akan sesuatu, maka kita akan semakin yakin untuk melakukannya.

Kesimpulan

Perilaku Sehat
Kira-kira, itulah jalan berpikir sederhananya apabila kita coba membedah bagaimana otak kita memutuskan untuk melaksanakan perilaku sehat maupun yang tidak sehat. Intinya apabila kita perhatikan, kunci utamanya adalah melakukan riset dan mencari tahu lebih banyak soal manfaat kesehatan dan dampak buruk dari pola makan dan pola hidup. Paparkan dirimu dengan lebih banyak informasi.

Berapa banyak dari kalian yang tahu bahwa alkohol, makanan berlemak, dan rokok itu buruk? Pasti semua tahu. Tapi coba ngaku, seberapa burukkah mereka? Siapa yang tahu bagaimana mereka bisa merusak kita? Apa kandungan yang buruk bagi kita? Jarang sekali orang mencari tahu agar tidak mengalami disonansi, karena kebenaran cenderung membuat pilihan untuk tetap mengonsumsi hal-hal tersebut tidak nyaman. Sehingga, ‘keburukan’ dari perilaku tersebut hanya diakui dan diambil face value-nya saja tanpa berpikir panjang, dalam, dan kritis. Alhasil, semakin dilakukan.

Makanya, sangat dianjurkan untuk mencari info sebanyak-banyaknya dari bacaan maupun yang ahli. Bahkan, dukungan dari teman dan keluarga tidak kalah pentingnya. Semakin sering terpapar informasi, maka semakin banyak hal yang bisa dipertimbangkan, semakin banyak pula waktu yang ada untuk mengambil keputusan yang benar (tidak impulsif). Bila butuh dorongan, coba carilah pendapat teman, keluarga, dan ahli kesehatan seperti Psikolog Kesehatan maupun Klinis.

Kalau malas mencari, ya tidak ada argumen untuk berperilaku sehat karena merokok dan mengonsumsi makanan sesuka hati selalu lebih nyaman daripada meninggalkannya.

Yuk, belajar lebih banyak soal hidup sehat!

Share the article

Leave a Comment